Showing posts with label CatatanPerjalanan. Show all posts
Showing posts with label CatatanPerjalanan. Show all posts

Tuesday, July 9, 2013

Awal Ramadan di Cordoba

Tepat jam 5 sore, para petugas keamanan museum Mezquita–catedral de Córdoba atau The Great Mosque of Cordoba mulai mempersilahkan pengunjung untuk segera meninggalkan ruangan museum, bagi saya, serasa waktu yang sangat sempit untuk menikmati keindahan maha karya Arsitektur yang menjadi acuan interior masjid Nabawi, disiasati dengan sedikit berkeliling mendhindari satpam-satpam tersebut, di sela-sela tiang yang banyak jumlahnya, mereka sekitar 4-5 orang yang bertugas mengarahkan pengunjung untuk menuju pintu keluar, walhasil sedikit kucing-kucingan antara saya dengan Satpam tersebut menjadikan saya sebagai penunjung terakhir yang keluar dari gedung megah ini. Belum puas memang, bagaimana tidak,...keindahan interiornya membuat mata terbelalak dan tangan pun tak sempat menyentuh tombol Jepret.

Mengagumi keindahan interior masjid ini bagi saya adalah pengalaman spiritual pribadi yang mengesankan!,.. menjadi saksi nyata bagaimana sebuah masjid yang di ruangan sama pula terdapat altar, patung Jesus dan ruang ibadah umat Kristen. Mihrab masjid agung ini pun masih asli tak tersentuh perubahan, dengan kaligrafi-kaligrafi indah, juga di beberapa langit-pangitnya. Mihrab ini diberi pagar sekitar 3-4 meter darinya hingga penunjung tak dapat mendekati apalagi menyentuh. Tepat di samping mihrab, terdapat dua buah altar yang mendampinginya, lengkap dengan patung-patung berhiaskan tulisan-tulisan Kristiani.

Sungguh Tuhan maha kuasa untuk menjaga semua ini, menjadikannya bukti bagi umat-umat berikutnya, yaitu Kita dan generasi berikut, sebagai pelajaran penting dan teramat berharga!

Saya pun lanjut berkeliling kompleks museum ini, karena waktu keluar museum adalah pengunjung terakhir maka tidak sempat lagi banyak memotret dan menikmati keindahan taman-taman di dalam nya.

Di ke empat sisi gedung ini, terdapat jalan yang mengelilinginya, dengan lebar sekitar 7-9 m. dapat dilalui kendaraan bermotor, juga terdapat kereta berkuda bagi wisatawan. Jalan berbahan batu ini yang cukup rata ini dipenuhi toko-toko souvenir di beberapa sisi nya, dengan fasade (tampilan depan) khas gaya Spanyol yang cantik. Diinding tembok sekitar 4-5 m. mengelilingi Masjid Cordoba, dengan beberapa pintu besar, berkusen kayu berukir kaligrafi di setiap sisinya.

Saya pun jalan berkeliling gedung  Masjid-Katedral ini sambil melihat-lihat dan memotret, sekaligus mencari tempat yang pas untuk sholat ashar. Mengingat waktu ashar di musim panas disini sekitar jam 5 lebih, sementara maghribnya jam 22:00. Siangnya lebih panjang!... oh iya, suhu tadi siang ketika saya tiba di kota ini adalah 40 derajat celcius. Hufff.....

Malam ini satu Ramadan, saya pun berusaha menemukan masjid di sekitar sini, tapi karena lupa browsing sebelumnya dan tidak dapat wifi gratis di lokasi ini, dengan pertimbangan ingin sekali sholat di masjid ini namun tentu saja tidak boleh karena sudah menjadi museum dan sudah tutup sejak jam 5 tadi, maka saya pun jalan kaki keliling masjid sampai menyeberang ke seberang sungai untuk menikmati keindahan masjid ini dari kejauhan, dengan tetap berharap dapat sholat minimal di lokasi masjid Cordoba.

Maka saya pun memutuskan menanti maghrib disini, di bekas kejayaan dimana suara-suara Mu diperdengarkan 8 abad lalu. Dan sore ini, saya menjadi saksi bahwa suara-suara yang mengagungkanMu tak terdengar lagi dari Masjid Megah ini, dari cakrawala kota ini,... 

Disini, saya menanti sambil terus berharap ada suara adzan, sambil membayangkan betapa jaman kejayaan itu begitu nyata!

Disini, saya menjadi saksi dengan langitmu nan cerah dan matahri yang teramat lambat bersembunyi di balik cakrawala,. menanti maghrib,

Disini, dengan penuh penasaran kapan suara-suara yang mengangungkanMu akan kembali terdengar di langit ini. 

tak terasa, 4 jam lebih saya menanti maghrib.

Marhaban Yaa Ramadan,...  saya menanti dan menyambutmu disini, di depan Masjid Cordoba.

*saya pun menggelar sajadah melakukan iqomah dan sholat sendiri di tepi gerbang masjid sebagaimana tempat sholat ashar tadi.

#CatatanPerjalanan Maulana Ibrahim, Cordoba, 30 Syaban 1434 / 9 Juli 2013.








































Monday, July 8, 2013

Menjemput Ramadan di Eropa

"Ikuti saja lorong setelah restoran ini", sambil menunjukkan arah belok ke kiri, "setelah itu jalan terus hingga ketemu tulisan Masjid". Begitu kata pelayan restoran kebab tempat saya makan siang tadi sore, sekaligus makan malam, karena seharian menikmati indahnya Istana Al Hambra (sejak buka jam 09:00 hingga tutup jam 17:00)

Setelah beristirahat sejenak dan mandi di hostel yang letaknya tidak terlalu jauh dengan resto tersebut, saya pun kembali menjelang maghrib, mengikuti petunjuk yang diberikan tadi. Tetapi,  kok tidak ketemu tulisan Masjid? Apakah saya melewati lorong yang salah atau... Hmm.. Saya pun bertanya kepada pedagang di lorong tersebut. Lorong sempit ini tidak bisa dilalui mobil karena ukurannya kecil, berlantai susunan batu dan sedikit berliku, juga dipenuhi pedagang jalanan (PKL) di sisi-sisinya. Para pedagang ini menawarkan pakaian, kain, lukisan, karpet, pernak-pernik interior dan souvenir khas Granada. 

Melewati lorong ini serasa berada di kisah 1001 malam atau di jaman Sinbad. Bagaimana tidak, lorong ini dipenuhi pedagang-pedagang beratap kain warna-warni, juga terdapat beberapa kafe khas timur tengah, sesekali diseling alunan musik irama padang pasir yang terdengar samar-samar dari dalam kafe yang pencahayaannya temaram, membuat suasana pencarian masjid ini semakin seru, karena dipenuhi  banyak godaan di kiri kanan (godaan ada apa di dalam kafe-kafe tersebut dan sekaligus godaan untuk memotretnya).

Setelah bertanya ke beberapa pedagang, akhirnya, ada seorang ibu paruh baya mau mengantarkan, karena mungkin sulit dijelaskan belokan-belokan nya. Hmm... Ternyata jalannya tidak semudah dan sedekat yang dibayangkan ketika saya mendapat penjelasan dari pelayan restoran tadi. 

Setelah melewati beberapa belokan mulai dari lorong yang ramai dengan pedagang hingga mulai sepi dan menanjak, dengan ibu berkerudung tersebut sebagai penunjuk jalan, akhirnya tiba juga di depan sebuah gedung dengan pintu bertuliskan Masjid At Taqwa, dibawah cahaya lampu seadanya. Jika tidak diantar tadi, saya pasti tidak akan ketemu masjidnya. Gedung-gedung di sepanjang lorong ini terletak sangat rapat satu lainnya, semacam apartemen-apartemen tua dengan balkon dan jendela yang indah di lantai atasnya yang rata-rata berlantai 3. Dan, masjid nya terletak di salah satu gedung tersebut. Seandainya tidak ada tulisan di pintu, maka dipastikan orang baru seperti saya tidak akan mengetahui gedung ini adalah sebuah Masjid. 

Ketika tiba di depan pintu, suasana sudah gelap, meski di musim panas  waktu sore amatlah panjang, maghrib sekitar pukul 22:00.  Pintu yang tertutup rapat itupun saya buka, dan setelah memasukinya, saya pun berwudhu di ruang wudhu lantai dasar dan naik ke lantai atasnya melalui sebuah tangga yang sempit namun kaya ornamen. Sepi,.. hanya terdapat 3 orang di ruangan sholat tersebut dan seorang di lantai dasar tadi yang sedang sholat. Ternyata, saya telat untuk Magrib berjamaah, akhirnya setelah usai sholat maghrib sendiri, saya menghampiri seorang Bapak yang sedang duduk, sembari bertanya tentang Ramadan. "Apakah sekarang sudah masuk Ramadan?" Laki-laki berkulit terang dengan jubah putih, berjanggut dan menggunakan peci putih itupun menjawab , "Masih menunggu pemberitahuan resmi dari Islamic Center di Madrid". Tampak di pojok ruangan sedang terjadi diskusi antara 2 orang bapak-bapak, keduanya juga menggunakan jubah, terdengar sekilas sepertinya mereka sedang membahas tentang Ibadah. Saya pun memutuskan menunggu di masjid tersebut hingga waktu Isha, sambil melihat-lihat koleksi buku dan membaca Quran yang disediakan di ruang sholat tersebut.

Beberapa saat kemudian, seorang Bapak berjubah dan tutup kepala putih membuka jendela dan melangkah ke luar menuju balkon jendela lantai 2 tersebut, kemudian terdengar suara "Allahu akbar Allahu Akbar"...
Saya pun kaget dan langsung menuju jendela bagian belakang dari jendela dimana bapak tersebut berdiri, karena tak mau kehilangan momen untuk memotret, dan sekaligus terpana.... Ketika suara adzan menggema memantul di antara lorong-lorong bangunan sekitarnya. Suasana yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Inilah suara adzan pertama bagi saya di Andalusia, negeri yang ratusan tahun lalu menjadi pusat peradaban Islam di Eropa, lalu kemudian terusir dengan keji. Alhamdulillah masih ada adzan berkumandang di negeri ini.
Betapa menarik dan unik karena ternyata Adzan di masjid ini tidak menggunakan pengeras suara. melainkan si Muadzin langsung menuju balkon dan mengumandangkan adzan sehingga suaranya akan menggema terpantul di antara dinding-dinding batu bata tua disekitarnya, menerobos suara-suara pedagang jalanan tadi dan alunan musik padang pasir. Itulah yang ada di dalam kepala saya, karena mengapa muadzin harus keluar melakukan adzan di balkon jendela lantai dua?...

Seakan terasa kembali ke ratusan tahun silam, ketika Islam pertama masuk ke negeri ini. Subhanallah...
Jadi teringat juga muadzin di Sigi Lamo (Masjid Besar) Kesultanan Ternate di kampung saya, yang muadzinnya juga tidak menggunakan pengeras suara ketika sholat jumat dan hari raya.

Setelah adzan, beberapa orang mulai berdatangan dan jamaah pun melaksanakan sholat sunah dan kemudian dilanjutkan dengan isha berjamaah. Ternyata, setelah isha, diumumkan bahwa malam ini belum masuk 1 Ramadan, sehingga awal puasa akan dimulai lusa, bukan besok. 

Alhamdullilah, artinya besok sore-malam  saya  akan menjemput Ramadan di Cordoba, salah satu pusat peradaban Islam di Eropa. Sengaja saya pilih dua kota ini (Granada & Cordoba) di saat awal Ramadhan, untuk mengenang kembali betapa kejayaan dan sekaligus kehancuran Islam di Andalusia.



#CatatanPerjalanan , Granada, 8 Juli 2013.

(Bersambung ke: Ramadan di Cordoba)

Restoran Kebab tempat saya makan sore. 
pengrajin Kaligrafi di teras restoran, masih terlihat sisa-sisa Islam di kota ini.  Hanya dengan 1 euro pengunjung mendapatkan tulisan nama mereka dalam kaligrafi (tulisan Arab)



suasana di depan lorong sebelum masuk berliku-liku

mulai memasuki lorong

lorong yang mulai sepi dan sedikit menanjak

pintu dengan tulisan Masjid At Taqwa
  

Tangga menuju ruang sholat utama di lantai 2.

Muadzin (terlihat sebagian badan dan tanganna di sebelah kiri) yang sedang mengumandangkan adzan di balkon jendela lantai 2 Masjid At Taqwa, Granada.

Monday, June 11, 2012

22 Jam melintasi Eropa

#CatatanPerjalanan, Gothenburg-Copenhagen-Hamburg-Munchen, 10-11 Juni 2012.

Tiba waktunya  menjelajahi Eropa.

Dengan modal nekat, saya mencoba menjelajahi Eropa dari Utara ke Tengah dengan jalur darat menggunakan kereta api, mengapa?..sederhana saja, agar bisa sambil melihat-lihat kawasan sub-urban sampai ke pedesaannya, menikmati  lahan pertanian, peternakan, yang biasanya hanya dilihat di film-film :)

Perjalanan dengan kereta api ini dimulai dari Stasiun Gothenburg jam 09:00, dengan waktu tempuh total 22 jam, melintasi Swedia bagian selatan, transit pertama di Malmo, kemudian di Copenhagen, Denmark dan menyeberangi bagian barat Laut Baltik hingga akhirnya sampai ke Jerman, dengan transit di Hamburg sebelum tiba di Munchen jam 07 pagi esok harinya. Wuiih... tidak terbayangkan sebelumnya akan naik kereta api selama itu, biasanya naik kereta paling lama yah jaman kuliah di Jogja dulu, naik kereta api ekonomi Jogja-Jakarta 12 Jam. Saya termasuk nekat memang! karena  baru tau kalau waktu tempuhnya 22 jam di saat beli tiket di staisun Gothenburg, alias tidak persiapan sebelumnya. 

Sungguh perjalanan yang tak terlupakan, terlebih lagi ketika kereta api telah meninggalkan stasiun Copenhagen. Beberapa jam kemudian tiba-tiba keretanya berjalan perlahan, padahal tidak ada stasiun pemberhentian. Dan serentak, suasana menjadi sedikit gelap di luar jendela karena saya yang tadinya asyik melihat pemandangan daratan tiba-tiba meliha bayangan saya sendiri di kaca jendela.

Apa yang terjadi? gumam saya dalam hati, ternyata, keretanya sudah berada di dalam suatu ruangan, dan saya baru sadar ketika terdengar pengumuman yang meminta semua penumpang untuk keluar dari gerbong dan segera naik ke dek penumpang. Ha? ternyata kereta yang saya tumpangi tersebut ada di dalam Kapal penyeberangan! Wow! maklum, biasanya kan saya naik mobil atau sepeda motor menumpang Verry dari kampung saya ke pulau Tidore, tau-tau ini naik kereta sampai dalam Verry!

Iyah, kereta api tersebut naik ke atas Verry untuk menyeberangi selat Fehmarn (Fehmarn Belt), diantara Denmark dan Jerman. Kami pun naik ke dek penumpang di bagian atas, sambil menikmati pemandangan laut. Di dek atas ini, terdapat toko-toko souvenir Khas Denmark dan Jerman, termasuk Jersey sepakbola tentunya, mirip toko-toko di bandara internasional yang bebas pajak (duty-free shop), lengkap dengan Kafetaria dan restorannya. Pertama kali nih naik Verry  yang begitu mewah!

Di bagian luar dek, penumpang menikmati udara laut dan burung-burung yang terbang menghampiri kapal. Dan, dari kejauhan mulai terlihat daratan Jerman. Ketika verry tiba di sebuah pelabuhan, yang tentu saja sudah dilengkapi rel kereta, penumpang pun sudah kembali duduk manis di tempat duduknya semula. Perjalanan dilanjutkan melintasi daratan Jerman. Tampak beda memang, karena sepanjang jalur kereta terlihat lahan pertanian luas yang diselingi kincir raksasa pembangkit listrik tenaga angin yang banyak jumlahnya.

Tak terasa kerata pun berhenti di stasiun Hamburg, untuk selanjutnya ganti tumpangan dengan kereta malam. Karena perjalanan akan dilanjutkan pada jam 22:00. Waktu transit yang hanya beberapa jam saja saya manfaatkan dengan berjalan kaki disekitar stasiun untuk sekedar memotret suasananya. Atmosfir Piala Eropa pun terasa pada interior stasiun.

suasana pedesaan di Swedia

Stasiun Kereta Api di Copenhagen, sebuah bangunan tua yang masih terjaga sampai bagian detailnya.

interior stasiun Copenhagen, sebagaimana stasiun lainnya di Eropa, sepeda leluasa masuk sampai ke kereta

Kereta sudah di dalam perut Kapal (Verry) menyeberangi selat Fehmarn, antara Denmark dan Jerman.

Pemandangan dari atas Verry ke arah Jerman

Suasana di atas Verry, dek/lantai paling atas, menikmati angin dan pemandangan laut.

Burung yang mendekati Verry

Suasana di atas dek Verry sambil menikmati Burung yang mendekat

Pandangan ke arah Verry lainnya yang melintas.

suasana kafetaria di Verry (ruang dalam dan luar)

Toko (Duty free shop) di  Verry

Siap-siap merapat ke Jerman

Suasana pedesaan di Jerman bagian Utara

suasana pedesaan di Jerman bagian utara yang dipenuhi kincir angin pembangkit listrik

ganti kereta di stasiun Hamburg

Museum di samping stasiun Hamburg

suasana kawasan sekitar stasiun Hamburg


Tampak depan Stasiun Kereta Api Hamburg

pedestrian di samping stasiun Hamburg

ruang dalam stasiun kereta api Hamburg

atmosfir Piala Eropa 2012 di stasiun Hamburg










Sunday, June 10, 2012

Goteborgs Universitet; tampil perdana di Eropa!

#CatatanPerjalanan, Gothenburg, 5-9 Juni 2012.

Tanpa berlama-lama tidur menyesuaikan Jet lag (apa karena terlalu bersemangat kali yah...) saya pun berhasil bangun Pagi, hari yang cukup sejuk di akhir musim semi; ketika di Osaka suhu siang hari  sudah di atas 20-an derajat Celcius, disini baru mendekati 20. Setelah sarapan dengan memasak sendiri di dapur Hostel, saya pun menuju universitas Gothenburg, tempat akan mempresentasikan makalah. Trem menjadi pilihan utama, karena memang inilah angkutan kota terbaik yang ada, sebagaimana kota-kota lainnya di Eropa. Dari Hostel tempat menginap butuh 3 menit jalan kaki ke halte trem dan sekitar 9 menit sudah sampai di halte depan kampus,  lanjut  3 menit jalan kaki untuk sampai ke gedung tempat acara, yaitu di Gedung Seminar.

Gedung ini memiliki beberapa auditorium termasuk sebuah auditorium utama tempat dimana acara pembukaan Seminar. Di ruang lobi selain disajikan pameran poster, juga terdapat beberapa ruang khusus para sponsor acara, terdiri atas lembaga penelitian, Jurnal Internasional dan Penerbit Buku. Membuat para peserta Konferensi Internasional ini dimanjakan oleh berbagai buku berkualitas dengan harga spesial alias diskon. 

Konferensi yang saya ikuti ini (5-8 Juni 2012) adalah Konferensi perdana para peneliti di bidang Heritage (di Indonesia disebut Pusaka/Warisan Budaya), yang bernaung dalam Association of Critical Heritage Studies (ACHS). Anggotanya tidak hanya dari bidang Arsitektur semata, tetapi dari berbagai disiplin ilmu yang kebanyakan dari ilmu-ilmu sosial budaya. Disinilah saya merasa beruntung karena dapat menimba ilmu-ilmu sosial dan bertukar pikiran dengan para peneliti dari berbagai belahan dunia, karena peserta konferensi ini sekitar 300 orang dari semua benua (kecuali Antartika :) ), dan ternyata peserta yang berasal dari Indonesia hanya dua orang, Saya dan Ibu Cut Dewi dari Arsitektur Universitas Syahkuala, Aceh; cukup mewakili lah, satu dari timur satunya lagi dari ujung Barat. Oh iya, peserta anak muda seumuran 20-an juga banyak.

Sebagaimana jadwal yang sudah dikirim panitia melalui email, giliran saya presentasi pada hari ke-3 acara, dimana hari ke-4 adalah hari terakhir yang disertai penutupan dan keesokan harinya atau hari ke-5 ada acara tambahan berupa Jelajah Pusaka Kota Gothenburg, yang dipandu oleh para penulis buku (re)Searching  Gothenburg. Menarik! 

Di acara ini saya berkenalan dengan beberapa peneliti muda baik masih mahasiswa maupun dosen muda, dari berbagai belahan bumi. Berbagi pengalaman biasanya terjadi ketika rehat kopi dan lebih-lebih pada saat makan siang bersama. Seru juga ada teman baru dari Singapura mengomentari saya ketika membaca name tag, "Maulana Ibrahim?  I think you from Maroko?" :) . Saya pun mengejarnya dengan bertanya mengapa berpikir demikian?... dengan enteng dia menjawab, nama nya maulana dan asal institusi nya Khairun, tentu yang terbayang semacam negara muslim. 

Tapi mengapa Maroko yah?... Apa karena tampang saya kah? :)) 

Akhirnya sebelum tiba giliran saya di hari ke-3, dua hari pertama saya habiskan dengan mengikuti presentasi2 yg terbagi atas beberapa ruang paralel yang jalan bersama waktunya. Disini manajemen waktu sangat diperlukan, agar tidak ketinggalan tema-tema yang kita senangi dalam acara konferensi. Setelah jam 5 acara berakhir di setiap harinya, saya sempatkan jalan di pusat kota sambil memotret, sebelum Maghrib yang jam 21:45.

Yang menarik dari konferensi internasional semacam ini adalah, pertukaran ide dan pemikiran sangatlah asyik mengalir, tanpa ada hambatan waktu atau lainnya. Karena memang acaranya sengaja diatur demikian. Disinilah para peneliti berkesempatan untuk berbagi hasil-hasil temuannya, bahkan ada beberapa mahasiswa S2 yang baru mulai meneliti juga ikut dengan mempresentasikan proposal risetnya, tentu keuntungan tersendiri karena mereka mendapat banyak masukan dari banyak orang juga.

Intinya, di acara yang awalnya sempat membuat jantung berdebar ini, adalah kesempatan berbagi ide dan bertukar pemikiran sekaligus menjalin persahabatan. Oh iya, saya pun berkenalan dengan mahasiswa S2 dari Universitas Leiden, sambil bertanya-tanya tentang kampusnya, kebetulan dia meneliti tentang Indonesia. Ada sekitar 2 orang yang meneliti batik Indonesia presentasi di acara ini, dia yang  berasal dari Amerika dan satunya lagi dari Australia.

Dan menariknya, ketika peneliti dari Australia  mempresentasikan makalahnya, dia mempersilakan saya menjawab pertanyaan yang diajukan salah satu penanya, betapa kagetnya saya di ruangan tersebut, karena baru kali ini saya temui ada sesi tanya jawab yg presenternya menyerahkan peserta untuk ikut menjawab. Pertanyaan yang diajukan tentang persepsi orang Indonesia terhadap batik maka saya pun bercerita bagaimana batik dipakai luas di tanah air terkait kebijakan Pemerintah, padahal Indonesia tidak hanya memiliki batik, masih banyak kain tenun atau ikat yang sangat indah dan khas daerah-daerah di Indonesia. Disinilah kejujuran dalam diri seorang peneliti, dipraktikkan langsung oleh teman dari Australia tersebut, dia merasa pertanyaan tersebut lebih tepat jika dijawab oleh orang Indonesia -yang kebetulan ada di ruangan- sehingga peserta juga puas, maka tanpa berpikir lama dia mempersilakan saya untuk menjawabnya. Memang sebelumnya kami sudah saling berkenalan di jam rehat kopi, dan tentunya sedikit bercerita tentang batik.  :)

Hari ke-3 pun tiba, giliran saya presentasi!.... 
Teman-teman baru dari NUS & Leiden pun hadir di ruangan saya dan ikut bertanya sekaligus memberikan beberapa masukan. Seru!!... Sayapun semakin banyak pengetahuan tentang tema riset urban heritage. Hal yang lumayan baru dan sangat menarik bagi saya. 

Akhirnya, perasaan lega dan bayangan jalan-jalan usai presentasi pun semakin menguat, ditambah pula sore itu kami peserta konferensi diundang makan malam di Balaikota Gothenburg, sebuah gedung tua di pusat kota dengan gaya renaissance.

Konferensi perdana saya di Eropa ini benar-benar berkesan!, selain karena banyak ilmu yang diperoleh, juga karena banyak sahabat baru dan tentu saja kesempatan mengenal kota Gothenburg setelah penutupan acara dengan kegiatan Jelajah Kota. Panitianya benar-benar mempersiapkan acara ini dengan matang, Salute untuk Universitas Gothenburg.

Tak terasa, hampir seminggu saya di Swedia,.... Siap-siap melanjutkan perjalanan ke bagian Eropa lainnya.



*semua foto-foto disini adalah hasil jepretan hape saya, maklum yg dari DSLR belum sempat ditampilkan :)

Trem, transportasi publik dalam kota Gothenburg.
   


 Pemandangan dari Ruang makan Hostel ke jalan utama. Disini setiap pagi saya biasa sarapan.
  

Dapur Hostel tempat saya biasa memasak sarapan & makan malam.
    

 Suasana Lobi utama gedung Seminar di saat rehat kopi, tampak di lantai dua adalah ruang makan siang.
   

Jalan setapak di dalam kampus Universitas Gothenburg yang asri karena dikelilingi rumput dan pohon.
    

 Salah satu gedung di kampus Universitas Gothenburg.
   

Suasana presentasi makalah oleh beberapa peserta Konferensi.
   

  Para sponsor jualan buku dengan harga diskon.


  Saya bersama Ibu Cut Dewi & Roran (Ki-Ka) berfoto di tangga Gedung Balaikota Gothenburg, tempat peserta Konferensi dijamu makan malam oleh Pemerintah Kota.




Suasana makan siang bersama para peneliti & dosen muda juga sebagai saat terbaik bertukar pengalaman

     
Makan malam menu Italia (vegetarian)bersama ibu Cut Dewi dan Meredith, peneliti Batik dari Universitas Leiden di salah satu Resto dekat Hostel.