(Catatan menikmati Nara Tokae Festival)
Serentak suasana berubah menjadi romantis syahdu ketika ribuan lentera kertas dan lampion mulai dinyalakan di hamparan taman-taman kuil, di area yang berstatus Pusaka Dunia (World Heritage) di kawasan Taman Nara, Kota Nara, sebuah kota tua bekas ibukota Jepang.
Beberapa menit sebelum dinyalakan secara serentak oleh panitia festival, penonton sudah duduk manis menanti sambil ngobrol satu lainnya. Padahal masih sore!... orang-orang dengan seksama memilih tempat duduk untuk menikmati lentera-lampion dinyalakan. Tak tanggung-tanggung, pengunjung yang hadir pun kebanyakan menggunakan Yukata, kimono khusus musim panas. Mulai dari anak-anak hingga Lansia terlihat memenuhi lokasi acara.
Nara Tokae Festival, diselenggarakan oleh pemerintah Kota Nara dengan puluhan relawan panitia yang sigap membantu pengunjung mengunjungi objek-objek yang dihiasi lentera-lampion. Ada 8 titik lokasi yang dihiasi lampu-lampu tradisional tersebut, baik berupa kuil, taman, jembatan maupun tepian danau. Tersebar di area Taman Nara yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki. Tidak perlu khawatir nyasar, peta panduan dan relawan dengan sigap telah disebar di sepanjang perjumpaan jalan. Suasana pun ramai semarak dihiasi berbagai macam lampu, pedagang kaki lima yang berjualan khusus untuk festival pun diatur dengan sangat baik, menyediakan berbagai macam makanan dan cinderamata khas Nara.
Toka berarti bunga lilin atau lelehan lilin di sekitar batang lilin yang membentuk seperti bunga. Orang Jepang percaya bahwa semakin banyak lelehan lilin membentuk bunga maka semakin beruntung. `E` bermakna bertemu. Sehingga Tokae berarti bertemunya bunga-bunga lilin.
Festival yang diselenggarakan di musim panas ini berlangsung pada 5 sampai 14 Agustus 2015, merupakan tahun ke-17 pelaksanaannya. Orang Jepang memang pandai membuat festival di setiap musimnya; dikelola dengan sangat profesional, termasuk profesional dalam memasarkannya. Bagaimana tidak, setiap festival sudah ditetapkan waktunya sejak setahun sebelumnya, diberi informasi detail pelaksanaan dalam berbagai media, baik online maupun brosur atau poster yang tersebar di berbagai penjuru negeri, terutama di angkutan dan ruang publik. Jutaan wisatawan pun mengunjunginya setiap tahun,
Pengunjung pun dibuat menikmati berbagai jenis lentera dan lampion berpadu bambu yang dipasang, ada yang disediakan kertas untuk diberi tulisan harapan-harapan oleh pengunjung kemudian ditempelkan di Lentera kertas yang disajikan di area festival.
Ketika melewati titik festival di Museum Nasional Nara, saya sempatkan menikmati alunan musik tradisional Jepang yang dibawakan secara akustik oleh seniman lokal. Penonton begitu syahdu menikmati alunan dawai yang dimainkan diantara tebaran lentera kertas.
Benar-benar tidak cukup waktu semalam untuk menikmati ke-8 titik lokasi festival ini. Saya hanya mengunjungi setengahnya. Semuanya disajikan secara menarik dan sangat fotogenik!..
Pelajaran dari festival ini adalah, betapa tradisi dijaga dengan sentuhan kreatifitas dan profesionalisme tinggi, sebuah pertunjukkan seni yang berpadu dengan keindahan alam dan budaya. Menjadi event wisata yang dinanti-nanti.
Dan, diakhir kunjungan ke festival ini saya pun sempat menulis pesan di salah satu lentera kertas yang disediakan penyelenggara, " Salam dari Mancia Taranoate" sambil berharap semoga festival Ela Ela di Kota tercinta dapat dikemas dengan baik dan menarik seperti festival ini.
Berikut oleh-oleh foto dari festival ini : (difoto manggunakan kamera hape *harap maklum)