Thursday, June 14, 2012

Menaiki Eifel

#EsaiFoto, Paris, 14 Juni 2012.

Siapa tak tahu menara baja yang berfungsi sebagai pemancar radio ini? yang ketika awalnya dikritisi sebagai bangunan yang tidak memiliki nilai estetika di Perancis?
Ada dua pilihan untuk mencapai puncaknya, menggunakan tangga atau lift. 

Saya memilih tangga ...

*jepretan2 kamera hape
























Wednesday, June 13, 2012

Merasakan Champion di Allianz Arena

#EsaiFoto : Allianz Arena, Munchen, 13 Juni 2012.

Stadion kebanggaan Bayern Munchen ini dibangun di tepi kota, tentu saja dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan aktifitas kota ketika ada pertandingan besar. Bahkan, dibutuhkan sekitar 15 menit berjalan kaki dari stasiun kereta api terdekat untuk sampai ke stadion ini.Mengapa demikian? agar ketika supporter tim yang kalah  pulang menonton, emosinya setidaknya dapat dilampiaskan sehingga sedikit berkurang selama berjalan kaki sebelum samapi ke stasiun kereta api, begitu kata pemandu di stadion ini. Dan memang, area sekitar stadion ini hanya berupa ruang terbuka luas yang dipenuhi rumput dan jalan setapak, alias tidak ada apa-apa sehingga tidak ada yang bisa dirusak ketika emosi penonton yang kalah tadi meluap. Lantas dimana parkiran kendaraannya? ternyata parkiran ditempatkan di basement ruang terbuka luas tersebut, dengan penanda lampu-lampu tinggi (yang akan sulit dijangkau lemparan batu/jika orang ingin melampiaskan emosi) berbentuk seperti balon gas yang diberi nomor agar pengunjung mudah ingat dan mudah terlihat dimana mereka memarkir kendaraan. Jalur pejalan kaki pun  dibuat sedikit melingkar, sengaja didesain demikian agar tidak membosankan (bukan jalur lurus/pencapaian tidak langsung).

Stadion yang juga dibuka untuk kunjungan wisatawan ini, memberi sensai menikmati pertandingan sesunguhnya, mengapa tidak....lagu Champion dikumandangkan ketika pengunjung tiba di ruangan bawah tanah pada saat pintu terbuka dimana pemain biasa masuk ke lapangan melaluinya. Namun, demi terjaganya lapangan, pegunjung tidak diperkenakan masuk sampai ke lapangan, hanya bisa menikmati sampai di kursi pemain samping rumput saja.

tiket tour Allianz Arena

pintu masuk ke dalam area stadion

pintu masuk

pintu masuk ke museum Bayern Munchen

Toko Souvenir di dekat Museum Bayern Munchen

Ruang tunggu dan Cafe

Toko Souvenir kecil

pemandu yang sedang menjelaskan perihal stadion



kursi stadion sebelum diduduk
kursi stadion siap duduk

menuju ruang ganti pemain
ruang ganti pemain

ruang pijat untuk pemain

ruang konferensi pers

denah salah satu sisi Allianz Arena

pembungkus bangunan (building envelope) Allianz Arena

lapisan transparan pembungkus  gedung (building envelope) stadion, yang akan menyebarkan cahaya lampu ketika dinyalakan, memberi efek gedung yang penuh warna-warni sesuai warna lampu.

Toko Souvenir besar


ruang terbuka yang sebagian besar diisi rumput dan pas sedang berbunga (musim semi-musim panas)

Tuesday, June 12, 2012

Nonton konser di Munchen Opera House

#CatatanPerjalanan : Munchen, 12 Juni 2012.

Menikmati musik klasik dan Opera disini kok seperti melaksanakan Sholat Jummat yah. Penuh tata tertib dan dilakukan dengan khusyu. Setidaknya itu kesan pertama saya ketika menikmati pertunjukkan musik klasik di gedung opera terbesar di Munchen ini.

Karena tidak boleh bawa kamera ketika nonton, maka sayapun jepret-jepret dengan hape, dan tentu saja tidak boleh motret ketika pertunjukkan dimulai. Aturannya: Dilarang mengaktifkan ha-pe (ketika pertunjukan dimulai).

Usai berjalan kaki di tengah gerimis , dari apartemen yang saya tumpangi sekitar 20 menit, kamipun sampai di gedung opera. Karena datang lebih awal, maka saya pun sempat memotret interior gedungnya sampai sesaat sebelum pertunjukkan dimulai, kemudian memotret suasana istirahat di antara pertunjukkan dimana semua penonton akan keluar dan sebagian menuju kafe di basement sambil menikmati minuman dan berbagai macam kue yang dijual, disinilah terjadi semacam sosialisasi diantara penonton. Memang, sebagaimana konsep gedung opera yang berbentuk audirotium melingkar, dimana penonton juga akan bisa saling melihat satu sama lainnya, di periode awal gedung opera diciptakan memang untuk ruang bertemu atau bisa dikatakan sebagai ruang publik yang tentunya di jaman itu bagi kalangan berada. Nah, saat saya menikmati konser musik klasik di gedung yang terdiri atas 5 lantai  ini, dalam bayangan saya penonton akan dipenuhi oleh orang tua, ternyata tidak, banyak juga anak muda, termasuk anak-anak sekolah seumuran anak SMA yang duduk berjejer-jejer di belakang kursi saya.

Semua penonton berpenampilan formal di gedung ini, dengan beberapa aturan antara lan: semua jaket/mantel, payung dan sejenisnya harus dititipkan di ruang penitipan barang, penonton yang memperoleh nomor kursi yang terletak di tengah harus masuk terlebih dahulu, karena di gedung ini tidak tersedia jalur pejalan di tengah barisan kursi-kursi. Dan tentu saja, semua alat komunikasi harus di non aktifkan. Begitu detail dan rapi penataan nya mulai dari proses orang masuk sampai ketika istirahat dan kembali menonton lagi di babak ke-2. Penontonnya pun sangat menaati aturan, maklum..tradisi nonton di gedung opera seperti ini sudah berusia ratusan tahun.

Jadi, kita yang jumatan masih kalah menaati tata tertib sebagaimana orang-orang Eropa begitu menaati tata tertib nonton di gedung Opera?..


titip jaket dan payung dulu sebelum masuk ruang pertunukkan

pandangan dari lantai 3 ke arah ruang pertunjukkan


Ruang penonton 5 lantai, ruangan di tengah tersebut dahulu digunakan khusus untuk Raja dan keluarganya.

Beberapa penonton seusia anak-anak SMA di belakang kursi yang akan saya tempati

7 euro, tiket Harga Mahasiswa

sesaat sebelum konser dimulai,.... dan hape pun dimatikan setelah jepretan ini.

istirahat diantara 2 babak pertunjukkan, suasana Kafe di basement gedung Opera.

pertunjukkan pun usai

saatnya melihat-lihat ke panggung

suasana di belakang panggung usai pertunjukan

gedung opera terlihat dari kejauhan di malam hari usai nonton.