Saturday, May 13, 2017

Jangan ada 1000 alasan untuk tidak ke Tidore

Menunggu 2,5 Jam di pelabuhan Very Bastiong Ternate tidak menyurutkan semangat kami menuju Tidore, sebuah pulau tetangga Ternate yang jarak tempuhnya hanya 5 menit menggunakan speed boat, 15 menit menggunakan Very dan sekitar 25 menit menggunakan kapal motor kayu. Tidore kami pilih sebagai destinasi untuk mengisi libur hari Waisak (11 Mei 2017).

Bukan karena ada Popeda dan makanan kebun racikan Ci Asna cs yang membuat kami bersabar tanpa kejelasan waktu keberangkatan Very, bukan pula karena asyiknya obrolan sambil menanti jadwal keberangkatan yang tak pasti,
Tetapi, semua karena perjalanan kali ini memang special!... selain karena bersama para relawan special juga karena kami ke Tidore bukan sebatas perjalanan wisata biasa.
Kami ke Tidore untuk menikmati Pusaka Tidore termasuk kulinernya.

To ado re,..berarti Aku Telah Sampai. Merupakan kalimat yang diucapkan para Momole ketika dikumpulkan oleh Syekh Yakub di puncak Gunung Tidore. Beberapa Momole berlomba untuk mencapai puncak dan ketika sampai mereka mengucap kalimat tersebut, yang ternyata diucapkan oleh semua Momole yang tiba bersamaa. Dari sinilah nama Kie Duko berangsur tergantikan nama To Ado Re dan dalam bahasa Arab dialek Irak: Thadore, bermakna: Engkau Telah Tiba, sebagaimana ucapan Syekh Yakub kepada para Momole. (dikutip dari buku Mengenal Kesultanan Tidore,  Maswin M & M, Amin Faroek, 2006)

Katika tiba di Pulau yang secara geografis banyak mirip karakternya dengan Ternate ini, perasaan lengang, asri, dan bersih menyejukkan mata mulai menghampiri. Bagaimana tidak, suasana jalan dari pelabuhan Rum menuju Soa Sio (ibukota Tidore), terlihat jelas rumah berjejer rapih dan bersih, disertai berbagai macam tanaman bunga di setiap pekarangan dan tepi jalan.

Sedikit unik memang perjalanan kali ini, saya menumpang motor teman yang matanya tidak hanya fokus ke jalan raya tetapi juga tajam mengamati bunga-bunga sepanjang jalan. (Benar-benar Bunga loh). Pulau ini selain banyak Masjid sepanjang jalannya, pantas dijuluki Pulau 1000 masjid, juga pulau 1000 bunga.

Kami ke Tidore bukan hanya untuk wisata kuliner semata, bukan hanya berfoto di destinasi andalan saja, berupa Istana Sultan dan benteng-benteng peninggalan Spanyol dan Portugis. kami ke Tidore untuk mengasah memori dan membangunkan diri yang masih sering terlelap. Meski kunjungan cukup singkat dan hanya 3 destinasi saja, namun sangat bermakna. Usai makan Pupeda dan mengunjungi serta belajar langsung di destinasi andalan Tidore, kami juga diperkenalkan oleh Ci Asna kepada salah satu Sangaji yang cukup menceritakan sejarah dan tradisi lisan orang Tidore. Suasana maghrib dan keakraban masyarakat Tidore masih terasa kuat, jauh dari hiruk pikuk masyarakat Kota, benar-benar syahdu.
Terbayar sudah, dan bahkan lebih yang kami dapatkan dari perjalanan yang sempat tertunda di awal keberangkatan dari Ternate.

Dibalik perjalanan ala anak muda penuh canda dan tawa, kami belajar tentang perjuangan Sultan Nuku dengan strategi jitu mengusir Belanda, belajar kekuatan adat dan budaya berbalut sejarah yang perlu diluruskan lagi,... tentang Penjelajahan samudera penuh darah dan intrik oleh Magelhaes yang akhirnya mati terbunuh sebelum sampai ke Tidore, hingga tentang Tidore yang menjadi tongkat kendali Papua di periode awal kemerdekaan. Tentang Merah-putih yang ditegakkan dan diberi sumpah untuk selalu tegak di Tidore. Bagian akhir ini diceritakan langsung oleh Nona Tidore, Ci Asna, tuan rumah sekaligus pemandu kami, Anak muda Tidore yang begitu bangga menceritakan sejarahnya!...

Dari perjalanan Ternate menuju Tidore dan kembali ke Ternate, tentu saja saya belajar sabar (karena diuji oleh jadwal Very yang telat karena ternyata rusak, hingga akhirnya kami pindah naik kapal kayu berukuran kecil) saya juga belajar tentang Negeri Kepulauan yang masih besar kesenjangannya, dan tentang betapa kecilnya saya sebagai mahluk di tengah lautan di kala malam yang menemani kami kembali ke Ternate.

Jika kau ingin melihat negeri kepulauan yang asri nan indah, datanglah ke Tidore
Jika kau ingin merasakan ketenteraman dan keindahan kota pulau, dengan rumah penduduk yang berbaris rapih dengan laut halaman depannya dan bonus menatap matahari tenggelam setiap harinya,... berkunjunglah Tidore
Jika kau mau lihat adat ditegakkan, buktikanlah di Tidore !!...dan
Jika kau mau mengasah jiwa nasionalisme, belajarlah dari Tidore;

Akhirnya, Tidore menampar kami anak muda Indonesia untuk bertanya kepada diri sendiri, Apa yang sudah kami lakukan untuk negeri ini?...


Foto bersama di depan Kadato Kie (Istana Sultan Tidore yang telah dibangun kembali pasca kebakaran di awal 1900-an)

Belajar sejarah Tidore di benteng Torre


Benteng Tahula, bukti peninggalan Spanyol yang begitu menjaga rempah-rempah  di Tidore


(Sumber foto : Jepretan kawan-kawan relawan 1000GuruMalut)
*saya tak banyak memotret karena begitu menikmati Kuliner dan Pusaka Tidore











Wednesday, May 10, 2017

Belajar dan Menemukan Cinta di Negeri 1000 ilmu

Belajar tidak harus jauh terbang dan lama mengarungi samudera ke negeri orang,
dari negeri sendiri tak bosan kita belajar, dari alam dan sosial budayanya, dari sejarah dan peninggalan/pusaka nya ada 1000 ilmu menanti untuk dipelajari dan diamalkan.

Bersama relawan 1000 Guru Maluku Utara,  (6-7 Mei 2017) kami kembali belajar bersama tentang Ternate, sebuah kota-pulau kecil yang sangat indah mempesona, memukau para penjelajah samudera sejak ratusan tahun lalu, hingga para pekerja yang ditempatkan atau merantau ke Ternate kini. Para perantau yang menemukan Cinta nya di Ternate, para perantau yang menemukan jati dirinya di Ternate; kaum perantau dan penghuni pulau yang sangat beragam etnis dan agama ini menjadi penentu keberlanjutan Ternate.

Obrolan dengan para relawan ini, saya banyak dapat cerita pengalaman menarik tentang objek bersejarah dan wisata alam yang kami kunjungi, suasana nan santai penuh humor mewarnai kegiatan ini.

Dari peninggalan benteng-benteng Eropa kita belajar tentang teknologi masa lampau hingga ekonomi dan sosial budaya, tentang semangat para pejuang Ternate, pahlawan kebanggaan Ternate.
Dari alamnya berupa pesisir pantai yang cantik, danau vulkanik, hutan-kebun Cengkeh, kita belajar tentang Maha Karya ciptaan Tuhan yang harus dijaga kelestariannya, sekaligus tetap waspada hidup di pulau gunung api ini. Kadato atau istana Sultan Ternate pun mengajarkan kita tentang Cinta yang melandasi Para Sultan menegakkan syariat untuk dinikmati generasi hingga akhir jaman.

Sahabat baru saya di kegiatan ini, pekerja yang belum lama menetap di Ternate bersemangat sambil berucap "Ini kota pulau luar biasa, saya bekerja kantoran pun dengan mudah menikmati pantai cantik, laut bening dengan pemandangan terindah langsung di depan, dinikmati setiap hari"

Akhirnya, Kota-Pulau yang semakin padat terisi bangunan di pesisir timur hingga selatan ini, andaikan dapat berkata-kata, pastilah  akan berujar:
"Hai anak muda,... jaga dan wariskan aku hingga anak-cucu sampai akhir jaman, agar mereka dapat menikmati hijaunya hutan nan semerbak aroma Cengkeh, pala, kayu manis,... menikmati dan bermain di pasir pantai alami, beningnya laut dengan terumbu karang yang cantik,...jangan biarkan aku rusak dan hancur oleh tangan dan pikiran rakus manusia sesat yang tak pernah memikirkan masa depan"

Selamat menikmati Ternate, menikmatinya dengan menjaga kelestarian alam dan budaya terbaiknya, jika kau belum mampu, maka janganlah menambah kotor dan menambah rusak pulau eksotis titipan Tuhan untuk kita jaga bersama ini.

Hamparan alam memukau yang dibalut sejarah serta budaya luhur adalah perpustakaan semesta yang ditemui di Ternate, yang membuatmu jatuh cinta hingga tak mau meninggalkannya.

Selamat menemukan Cinta di Limau Gapi

Suba Jo :)

#LestarikanPusakaTernate











sumber foto : jepretan sendiri, jepretan Panitia, dan jepretan Relawan 1000GuruMalut TnT #4 6-7 Mei 2017