Menunggu 2,5 Jam di pelabuhan Very Bastiong Ternate tidak menyurutkan semangat kami menuju Tidore, sebuah pulau tetangga Ternate yang jarak tempuhnya hanya 5 menit menggunakan speed boat, 15 menit menggunakan Very dan sekitar 25 menit menggunakan kapal motor kayu. Tidore kami pilih sebagai destinasi untuk mengisi libur hari Waisak (11 Mei 2017).
Bukan karena ada Popeda dan makanan kebun racikan Ci Asna cs yang membuat kami bersabar tanpa kejelasan waktu keberangkatan Very, bukan pula karena asyiknya obrolan sambil menanti jadwal keberangkatan yang tak pasti,
Tetapi, semua karena perjalanan kali ini memang special!... selain karena bersama para relawan special juga karena kami ke Tidore bukan sebatas perjalanan wisata biasa.
Kami ke Tidore untuk menikmati Pusaka Tidore termasuk kulinernya.
To ado re,..berarti Aku Telah Sampai. Merupakan kalimat yang diucapkan para Momole ketika dikumpulkan oleh Syekh Yakub di puncak Gunung Tidore. Beberapa Momole berlomba untuk mencapai puncak dan ketika sampai mereka mengucap kalimat tersebut, yang ternyata diucapkan oleh semua Momole yang tiba bersamaa. Dari sinilah nama Kie Duko berangsur tergantikan nama To Ado Re dan dalam bahasa Arab dialek Irak: Thadore, bermakna: Engkau Telah Tiba, sebagaimana ucapan Syekh Yakub kepada para Momole. (dikutip dari buku Mengenal Kesultanan Tidore, Maswin M & M, Amin Faroek, 2006)
Katika tiba di Pulau yang secara geografis banyak mirip karakternya dengan Ternate ini, perasaan lengang, asri, dan bersih menyejukkan mata mulai menghampiri. Bagaimana tidak, suasana jalan dari pelabuhan Rum menuju Soa Sio (ibukota Tidore), terlihat jelas rumah berjejer rapih dan bersih, disertai berbagai macam tanaman bunga di setiap pekarangan dan tepi jalan.
Sedikit unik memang perjalanan kali ini, saya menumpang motor teman yang matanya tidak hanya fokus ke jalan raya tetapi juga tajam mengamati bunga-bunga sepanjang jalan. (Benar-benar Bunga loh). Pulau ini selain banyak Masjid sepanjang jalannya, pantas dijuluki Pulau 1000 masjid, juga pulau 1000 bunga.
Kami ke Tidore bukan hanya untuk wisata kuliner semata, bukan hanya berfoto di destinasi andalan saja, berupa Istana Sultan dan benteng-benteng peninggalan Spanyol dan Portugis. kami ke Tidore untuk mengasah memori dan membangunkan diri yang masih sering terlelap. Meski kunjungan cukup singkat dan hanya 3 destinasi saja, namun sangat bermakna. Usai makan Pupeda dan mengunjungi serta belajar langsung di destinasi andalan Tidore, kami juga diperkenalkan oleh Ci Asna kepada salah satu Sangaji yang cukup menceritakan sejarah dan tradisi lisan orang Tidore. Suasana maghrib dan keakraban masyarakat Tidore masih terasa kuat, jauh dari hiruk pikuk masyarakat Kota, benar-benar syahdu.
Terbayar sudah, dan bahkan lebih yang kami dapatkan dari perjalanan yang sempat tertunda di awal keberangkatan dari Ternate.
Dibalik perjalanan ala anak muda penuh canda dan tawa, kami belajar tentang perjuangan Sultan Nuku dengan strategi jitu mengusir Belanda, belajar kekuatan adat dan budaya berbalut sejarah yang perlu diluruskan lagi,... tentang Penjelajahan samudera penuh darah dan intrik oleh Magelhaes yang akhirnya mati terbunuh sebelum sampai ke Tidore, hingga tentang Tidore yang menjadi tongkat kendali Papua di periode awal kemerdekaan. Tentang Merah-putih yang ditegakkan dan diberi sumpah untuk selalu tegak di Tidore. Bagian akhir ini diceritakan langsung oleh Nona Tidore, Ci Asna, tuan rumah sekaligus pemandu kami, Anak muda Tidore yang begitu bangga menceritakan sejarahnya!...
Dari perjalanan Ternate menuju Tidore dan kembali ke Ternate, tentu saja saya belajar sabar (karena diuji oleh jadwal Very yang telat karena ternyata rusak, hingga akhirnya kami pindah naik kapal kayu berukuran kecil) saya juga belajar tentang Negeri Kepulauan yang masih besar kesenjangannya, dan tentang betapa kecilnya saya sebagai mahluk di tengah lautan di kala malam yang menemani kami kembali ke Ternate.
Jika kau ingin melihat negeri kepulauan yang asri nan indah, datanglah ke Tidore
Jika kau ingin merasakan ketenteraman dan keindahan kota pulau, dengan rumah penduduk yang berbaris rapih dengan laut halaman depannya dan bonus menatap matahari tenggelam setiap harinya,... berkunjunglah Tidore
Jika kau mau lihat adat ditegakkan, buktikanlah di Tidore !!...dan
Jika kau mau mengasah jiwa nasionalisme, belajarlah dari Tidore;
Akhirnya, Tidore menampar kami anak muda Indonesia untuk bertanya kepada diri sendiri, Apa yang sudah kami lakukan untuk negeri ini?...
(Sumber foto : Jepretan kawan-kawan relawan 1000GuruMalut)
*saya tak banyak memotret karena begitu menikmati Kuliner dan Pusaka Tidore
Bukan karena ada Popeda dan makanan kebun racikan Ci Asna cs yang membuat kami bersabar tanpa kejelasan waktu keberangkatan Very, bukan pula karena asyiknya obrolan sambil menanti jadwal keberangkatan yang tak pasti,
Tetapi, semua karena perjalanan kali ini memang special!... selain karena bersama para relawan special juga karena kami ke Tidore bukan sebatas perjalanan wisata biasa.
Kami ke Tidore untuk menikmati Pusaka Tidore termasuk kulinernya.
To ado re,..berarti Aku Telah Sampai. Merupakan kalimat yang diucapkan para Momole ketika dikumpulkan oleh Syekh Yakub di puncak Gunung Tidore. Beberapa Momole berlomba untuk mencapai puncak dan ketika sampai mereka mengucap kalimat tersebut, yang ternyata diucapkan oleh semua Momole yang tiba bersamaa. Dari sinilah nama Kie Duko berangsur tergantikan nama To Ado Re dan dalam bahasa Arab dialek Irak: Thadore, bermakna: Engkau Telah Tiba, sebagaimana ucapan Syekh Yakub kepada para Momole. (dikutip dari buku Mengenal Kesultanan Tidore, Maswin M & M, Amin Faroek, 2006)
Katika tiba di Pulau yang secara geografis banyak mirip karakternya dengan Ternate ini, perasaan lengang, asri, dan bersih menyejukkan mata mulai menghampiri. Bagaimana tidak, suasana jalan dari pelabuhan Rum menuju Soa Sio (ibukota Tidore), terlihat jelas rumah berjejer rapih dan bersih, disertai berbagai macam tanaman bunga di setiap pekarangan dan tepi jalan.
Sedikit unik memang perjalanan kali ini, saya menumpang motor teman yang matanya tidak hanya fokus ke jalan raya tetapi juga tajam mengamati bunga-bunga sepanjang jalan. (Benar-benar Bunga loh). Pulau ini selain banyak Masjid sepanjang jalannya, pantas dijuluki Pulau 1000 masjid, juga pulau 1000 bunga.
Kami ke Tidore bukan hanya untuk wisata kuliner semata, bukan hanya berfoto di destinasi andalan saja, berupa Istana Sultan dan benteng-benteng peninggalan Spanyol dan Portugis. kami ke Tidore untuk mengasah memori dan membangunkan diri yang masih sering terlelap. Meski kunjungan cukup singkat dan hanya 3 destinasi saja, namun sangat bermakna. Usai makan Pupeda dan mengunjungi serta belajar langsung di destinasi andalan Tidore, kami juga diperkenalkan oleh Ci Asna kepada salah satu Sangaji yang cukup menceritakan sejarah dan tradisi lisan orang Tidore. Suasana maghrib dan keakraban masyarakat Tidore masih terasa kuat, jauh dari hiruk pikuk masyarakat Kota, benar-benar syahdu.
Terbayar sudah, dan bahkan lebih yang kami dapatkan dari perjalanan yang sempat tertunda di awal keberangkatan dari Ternate.
Dibalik perjalanan ala anak muda penuh canda dan tawa, kami belajar tentang perjuangan Sultan Nuku dengan strategi jitu mengusir Belanda, belajar kekuatan adat dan budaya berbalut sejarah yang perlu diluruskan lagi,... tentang Penjelajahan samudera penuh darah dan intrik oleh Magelhaes yang akhirnya mati terbunuh sebelum sampai ke Tidore, hingga tentang Tidore yang menjadi tongkat kendali Papua di periode awal kemerdekaan. Tentang Merah-putih yang ditegakkan dan diberi sumpah untuk selalu tegak di Tidore. Bagian akhir ini diceritakan langsung oleh Nona Tidore, Ci Asna, tuan rumah sekaligus pemandu kami, Anak muda Tidore yang begitu bangga menceritakan sejarahnya!...
Dari perjalanan Ternate menuju Tidore dan kembali ke Ternate, tentu saja saya belajar sabar (karena diuji oleh jadwal Very yang telat karena ternyata rusak, hingga akhirnya kami pindah naik kapal kayu berukuran kecil) saya juga belajar tentang Negeri Kepulauan yang masih besar kesenjangannya, dan tentang betapa kecilnya saya sebagai mahluk di tengah lautan di kala malam yang menemani kami kembali ke Ternate.
Jika kau ingin melihat negeri kepulauan yang asri nan indah, datanglah ke Tidore
Jika kau ingin merasakan ketenteraman dan keindahan kota pulau, dengan rumah penduduk yang berbaris rapih dengan laut halaman depannya dan bonus menatap matahari tenggelam setiap harinya,... berkunjunglah Tidore
Jika kau mau lihat adat ditegakkan, buktikanlah di Tidore !!...dan
Jika kau mau mengasah jiwa nasionalisme, belajarlah dari Tidore;
Akhirnya, Tidore menampar kami anak muda Indonesia untuk bertanya kepada diri sendiri, Apa yang sudah kami lakukan untuk negeri ini?...
![]() |
| Foto bersama di depan Kadato Kie (Istana Sultan Tidore yang telah dibangun kembali pasca kebakaran di awal 1900-an) |
![]() |
| Belajar sejarah Tidore di benteng Torre |
![]() |
| Benteng Tahula, bukti peninggalan Spanyol yang begitu menjaga rempah-rempah di Tidore |
(Sumber foto : Jepretan kawan-kawan relawan 1000GuruMalut)
*saya tak banyak memotret karena begitu menikmati Kuliner dan Pusaka Tidore











































