Saturday, May 13, 2017

Jangan ada 1000 alasan untuk tidak ke Tidore

Menunggu 2,5 Jam di pelabuhan Very Bastiong Ternate tidak menyurutkan semangat kami menuju Tidore, sebuah pulau tetangga Ternate yang jarak tempuhnya hanya 5 menit menggunakan speed boat, 15 menit menggunakan Very dan sekitar 25 menit menggunakan kapal motor kayu. Tidore kami pilih sebagai destinasi untuk mengisi libur hari Waisak (11 Mei 2017).

Bukan karena ada Popeda dan makanan kebun racikan Ci Asna cs yang membuat kami bersabar tanpa kejelasan waktu keberangkatan Very, bukan pula karena asyiknya obrolan sambil menanti jadwal keberangkatan yang tak pasti,
Tetapi, semua karena perjalanan kali ini memang special!... selain karena bersama para relawan special juga karena kami ke Tidore bukan sebatas perjalanan wisata biasa.
Kami ke Tidore untuk menikmati Pusaka Tidore termasuk kulinernya.

To ado re,..berarti Aku Telah Sampai. Merupakan kalimat yang diucapkan para Momole ketika dikumpulkan oleh Syekh Yakub di puncak Gunung Tidore. Beberapa Momole berlomba untuk mencapai puncak dan ketika sampai mereka mengucap kalimat tersebut, yang ternyata diucapkan oleh semua Momole yang tiba bersamaa. Dari sinilah nama Kie Duko berangsur tergantikan nama To Ado Re dan dalam bahasa Arab dialek Irak: Thadore, bermakna: Engkau Telah Tiba, sebagaimana ucapan Syekh Yakub kepada para Momole. (dikutip dari buku Mengenal Kesultanan Tidore,  Maswin M & M, Amin Faroek, 2006)

Katika tiba di Pulau yang secara geografis banyak mirip karakternya dengan Ternate ini, perasaan lengang, asri, dan bersih menyejukkan mata mulai menghampiri. Bagaimana tidak, suasana jalan dari pelabuhan Rum menuju Soa Sio (ibukota Tidore), terlihat jelas rumah berjejer rapih dan bersih, disertai berbagai macam tanaman bunga di setiap pekarangan dan tepi jalan.

Sedikit unik memang perjalanan kali ini, saya menumpang motor teman yang matanya tidak hanya fokus ke jalan raya tetapi juga tajam mengamati bunga-bunga sepanjang jalan. (Benar-benar Bunga loh). Pulau ini selain banyak Masjid sepanjang jalannya, pantas dijuluki Pulau 1000 masjid, juga pulau 1000 bunga.

Kami ke Tidore bukan hanya untuk wisata kuliner semata, bukan hanya berfoto di destinasi andalan saja, berupa Istana Sultan dan benteng-benteng peninggalan Spanyol dan Portugis. kami ke Tidore untuk mengasah memori dan membangunkan diri yang masih sering terlelap. Meski kunjungan cukup singkat dan hanya 3 destinasi saja, namun sangat bermakna. Usai makan Pupeda dan mengunjungi serta belajar langsung di destinasi andalan Tidore, kami juga diperkenalkan oleh Ci Asna kepada salah satu Sangaji yang cukup menceritakan sejarah dan tradisi lisan orang Tidore. Suasana maghrib dan keakraban masyarakat Tidore masih terasa kuat, jauh dari hiruk pikuk masyarakat Kota, benar-benar syahdu.
Terbayar sudah, dan bahkan lebih yang kami dapatkan dari perjalanan yang sempat tertunda di awal keberangkatan dari Ternate.

Dibalik perjalanan ala anak muda penuh canda dan tawa, kami belajar tentang perjuangan Sultan Nuku dengan strategi jitu mengusir Belanda, belajar kekuatan adat dan budaya berbalut sejarah yang perlu diluruskan lagi,... tentang Penjelajahan samudera penuh darah dan intrik oleh Magelhaes yang akhirnya mati terbunuh sebelum sampai ke Tidore, hingga tentang Tidore yang menjadi tongkat kendali Papua di periode awal kemerdekaan. Tentang Merah-putih yang ditegakkan dan diberi sumpah untuk selalu tegak di Tidore. Bagian akhir ini diceritakan langsung oleh Nona Tidore, Ci Asna, tuan rumah sekaligus pemandu kami, Anak muda Tidore yang begitu bangga menceritakan sejarahnya!...

Dari perjalanan Ternate menuju Tidore dan kembali ke Ternate, tentu saja saya belajar sabar (karena diuji oleh jadwal Very yang telat karena ternyata rusak, hingga akhirnya kami pindah naik kapal kayu berukuran kecil) saya juga belajar tentang Negeri Kepulauan yang masih besar kesenjangannya, dan tentang betapa kecilnya saya sebagai mahluk di tengah lautan di kala malam yang menemani kami kembali ke Ternate.

Jika kau ingin melihat negeri kepulauan yang asri nan indah, datanglah ke Tidore
Jika kau ingin merasakan ketenteraman dan keindahan kota pulau, dengan rumah penduduk yang berbaris rapih dengan laut halaman depannya dan bonus menatap matahari tenggelam setiap harinya,... berkunjunglah Tidore
Jika kau mau lihat adat ditegakkan, buktikanlah di Tidore !!...dan
Jika kau mau mengasah jiwa nasionalisme, belajarlah dari Tidore;

Akhirnya, Tidore menampar kami anak muda Indonesia untuk bertanya kepada diri sendiri, Apa yang sudah kami lakukan untuk negeri ini?...


Foto bersama di depan Kadato Kie (Istana Sultan Tidore yang telah dibangun kembali pasca kebakaran di awal 1900-an)

Belajar sejarah Tidore di benteng Torre


Benteng Tahula, bukti peninggalan Spanyol yang begitu menjaga rempah-rempah  di Tidore


(Sumber foto : Jepretan kawan-kawan relawan 1000GuruMalut)
*saya tak banyak memotret karena begitu menikmati Kuliner dan Pusaka Tidore











Wednesday, May 10, 2017

Belajar dan Menemukan Cinta di Negeri 1000 ilmu

Belajar tidak harus jauh terbang dan lama mengarungi samudera ke negeri orang,
dari negeri sendiri tak bosan kita belajar, dari alam dan sosial budayanya, dari sejarah dan peninggalan/pusaka nya ada 1000 ilmu menanti untuk dipelajari dan diamalkan.

Bersama relawan 1000 Guru Maluku Utara,  (6-7 Mei 2017) kami kembali belajar bersama tentang Ternate, sebuah kota-pulau kecil yang sangat indah mempesona, memukau para penjelajah samudera sejak ratusan tahun lalu, hingga para pekerja yang ditempatkan atau merantau ke Ternate kini. Para perantau yang menemukan Cinta nya di Ternate, para perantau yang menemukan jati dirinya di Ternate; kaum perantau dan penghuni pulau yang sangat beragam etnis dan agama ini menjadi penentu keberlanjutan Ternate.

Obrolan dengan para relawan ini, saya banyak dapat cerita pengalaman menarik tentang objek bersejarah dan wisata alam yang kami kunjungi, suasana nan santai penuh humor mewarnai kegiatan ini.

Dari peninggalan benteng-benteng Eropa kita belajar tentang teknologi masa lampau hingga ekonomi dan sosial budaya, tentang semangat para pejuang Ternate, pahlawan kebanggaan Ternate.
Dari alamnya berupa pesisir pantai yang cantik, danau vulkanik, hutan-kebun Cengkeh, kita belajar tentang Maha Karya ciptaan Tuhan yang harus dijaga kelestariannya, sekaligus tetap waspada hidup di pulau gunung api ini. Kadato atau istana Sultan Ternate pun mengajarkan kita tentang Cinta yang melandasi Para Sultan menegakkan syariat untuk dinikmati generasi hingga akhir jaman.

Sahabat baru saya di kegiatan ini, pekerja yang belum lama menetap di Ternate bersemangat sambil berucap "Ini kota pulau luar biasa, saya bekerja kantoran pun dengan mudah menikmati pantai cantik, laut bening dengan pemandangan terindah langsung di depan, dinikmati setiap hari"

Akhirnya, Kota-Pulau yang semakin padat terisi bangunan di pesisir timur hingga selatan ini, andaikan dapat berkata-kata, pastilah  akan berujar:
"Hai anak muda,... jaga dan wariskan aku hingga anak-cucu sampai akhir jaman, agar mereka dapat menikmati hijaunya hutan nan semerbak aroma Cengkeh, pala, kayu manis,... menikmati dan bermain di pasir pantai alami, beningnya laut dengan terumbu karang yang cantik,...jangan biarkan aku rusak dan hancur oleh tangan dan pikiran rakus manusia sesat yang tak pernah memikirkan masa depan"

Selamat menikmati Ternate, menikmatinya dengan menjaga kelestarian alam dan budaya terbaiknya, jika kau belum mampu, maka janganlah menambah kotor dan menambah rusak pulau eksotis titipan Tuhan untuk kita jaga bersama ini.

Hamparan alam memukau yang dibalut sejarah serta budaya luhur adalah perpustakaan semesta yang ditemui di Ternate, yang membuatmu jatuh cinta hingga tak mau meninggalkannya.

Selamat menemukan Cinta di Limau Gapi

Suba Jo :)

#LestarikanPusakaTernate











sumber foto : jepretan sendiri, jepretan Panitia, dan jepretan Relawan 1000GuruMalut TnT #4 6-7 Mei 2017

Saturday, August 15, 2015

Ela Ela di Jepang

(Catatan menikmati Nara Tokae Festival)

Serentak suasana berubah menjadi romantis syahdu ketika ribuan lentera kertas dan lampion mulai dinyalakan di hamparan taman-taman kuil, di area yang berstatus Pusaka Dunia (World Heritage) di kawasan Taman Nara, Kota Nara, sebuah kota tua bekas ibukota Jepang.

Beberapa menit sebelum dinyalakan secara serentak oleh  panitia festival, penonton sudah duduk manis menanti sambil ngobrol satu lainnya. Padahal masih sore!... orang-orang dengan seksama memilih tempat duduk untuk menikmati lentera-lampion dinyalakan. Tak tanggung-tanggung, pengunjung  yang hadir pun kebanyakan menggunakan Yukata, kimono khusus musim panas. Mulai dari anak-anak hingga Lansia terlihat memenuhi lokasi acara.

Nara Tokae Festival, diselenggarakan oleh pemerintah Kota Nara dengan puluhan relawan panitia yang sigap membantu pengunjung mengunjungi objek-objek yang dihiasi lentera-lampion. Ada 8 titik lokasi yang dihiasi lampu-lampu tradisional tersebut, baik berupa kuil, taman, jembatan maupun tepian danau.  Tersebar di area Taman Nara yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki. Tidak perlu khawatir nyasar, peta panduan dan relawan dengan sigap telah disebar di sepanjang perjumpaan jalan. Suasana pun ramai semarak dihiasi berbagai macam lampu, pedagang kaki lima  yang berjualan khusus untuk festival pun diatur dengan sangat baik, menyediakan berbagai macam makanan dan cinderamata khas Nara.

Toka berarti bunga lilin atau lelehan lilin di sekitar batang lilin yang membentuk seperti bunga. Orang Jepang percaya bahwa semakin banyak lelehan lilin membentuk bunga maka semakin beruntung. `E` bermakna bertemu. Sehingga Tokae berarti bertemunya bunga-bunga lilin. 

Festival yang diselenggarakan di musim panas ini berlangsung pada 5 sampai 14 Agustus 2015, merupakan tahun ke-17 pelaksanaannya. Orang Jepang memang pandai membuat festival di setiap musimnya; dikelola dengan sangat profesional, termasuk profesional dalam memasarkannya. Bagaimana tidak, setiap festival sudah ditetapkan waktunya sejak setahun sebelumnya, diberi informasi detail pelaksanaan dalam berbagai media, baik online maupun brosur atau poster yang tersebar di berbagai penjuru negeri, terutama di angkutan dan ruang publik. Jutaan wisatawan pun mengunjunginya setiap tahun,

Pengunjung pun dibuat menikmati berbagai jenis lentera dan lampion berpadu bambu yang dipasang, ada yang disediakan kertas untuk diberi tulisan harapan-harapan oleh pengunjung kemudian ditempelkan di Lentera kertas yang disajikan di area festival. 

Ketika melewati titik festival di Museum Nasional Nara, saya sempatkan menikmati alunan musik tradisional Jepang yang dibawakan secara akustik oleh seniman lokal. Penonton begitu syahdu menikmati alunan dawai yang dimainkan diantara tebaran lentera kertas.

Benar-benar tidak cukup waktu semalam untuk menikmati ke-8 titik lokasi festival ini. Saya hanya mengunjungi setengahnya. Semuanya disajikan secara menarik dan sangat fotogenik!..

Pelajaran dari festival ini adalah, betapa tradisi dijaga dengan sentuhan kreatifitas dan profesionalisme tinggi, sebuah pertunjukkan seni yang berpadu dengan keindahan alam dan budaya. Menjadi event wisata yang dinanti-nanti.

Dan, diakhir kunjungan ke festival ini saya pun sempat menulis pesan di salah satu lentera kertas yang disediakan penyelenggara,  " Salam dari Mancia Taranoate" sambil berharap semoga festival Ela Ela di Kota tercinta dapat dikemas dengan baik dan menarik seperti festival ini. 

Berikut oleh-oleh foto dari festival ini : (difoto manggunakan kamera hape *harap maklum)















Wednesday, July 10, 2013

Masjid Abu-Bakr di Madrid

Sejak terusir dari negeri Andalusia pada tahun 1085, Islam tidak terlihat lagi sebagai peradaban hidup di negeri tersebut. Peninggalan nya pun dikuasai penguasa berikutnya. Banyak masjid yang berubah menjadi Gereja, rumah tinggal, bengkel, atau gudang.

Butuh 9 abad kemudian, tepatnya pada 1988, sebuah masjid megah diresmikan di Kota Madrid, menandai kehidupan Islam yang kembali ke negeri ini. Masjid dengan arsitek Juan Mora ini bernama Masjid Abu-Bakr, diambil dari nama Khalifah pertama pengganti kepemimpinan Nabi Muhammad. Masjid ini juga dikenal dengan nama Madrid Central Mosque.

Masjid 4 lantai ini dilengkapi perpustakaan, auditorium, sekolah, klinik, toko, dan kantor, sebagai pusat kegiatan umat Islam di Spanyol (Union of Islamic Communities  of Spain).

Di masjid inilah saya menikmati berbuka puasa-hari pertama-sampai Taraweh perdana di Eropa.

*Difoto dengan kamera hape

#EsaiFoto Maulana Ibrahim, Masjid Abu-Bakr di Madrid, 1 Ramadan 1434 / 10 Juli 2013.

pemandangan dari atap masjid Abu-Bakr ke arah pusat kota Madrid.
Ruang sholat-utama- masjid Abu-Bakr, di Lantai 2, di saat adzan Maghrib berkumandang.

Salah satu sisi ruang sholat-utama-masjid Abu-Bakr, di lantai 2, terlihat seorang jamaah sedang membaca Quran sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Ruang sholat-utama-masjid Abu-Bakr, di lantai 2.

Ada juga pedagang makanan berbuka puasa, terlihat dengan beberapa pembeli, di samping masjid Abu-Bakr.

Saat Adzan maghrib, buka puasa dengan kurma, dan dilanjutkan makan malam bersama di lantai dasar masjid Abu-Bakr,  usai sholat maghrib, gratis!.. (kiri atas sampai kiri bawah). 

Kue-kue untuk berbuka puasa yang di jual di Toko Masjid Abu-Bakr, di lantai dasar.

Lampu di dalam ruang sholat utama Masjid Abu-Bakr, di lantai 2.

Tuesday, July 9, 2013

Awal Ramadan di Cordoba

Tepat jam 5 sore, para petugas keamanan museum Mezquita–catedral de Córdoba atau The Great Mosque of Cordoba mulai mempersilahkan pengunjung untuk segera meninggalkan ruangan museum, bagi saya, serasa waktu yang sangat sempit untuk menikmati keindahan maha karya Arsitektur yang menjadi acuan interior masjid Nabawi, disiasati dengan sedikit berkeliling mendhindari satpam-satpam tersebut, di sela-sela tiang yang banyak jumlahnya, mereka sekitar 4-5 orang yang bertugas mengarahkan pengunjung untuk menuju pintu keluar, walhasil sedikit kucing-kucingan antara saya dengan Satpam tersebut menjadikan saya sebagai penunjung terakhir yang keluar dari gedung megah ini. Belum puas memang, bagaimana tidak,...keindahan interiornya membuat mata terbelalak dan tangan pun tak sempat menyentuh tombol Jepret.

Mengagumi keindahan interior masjid ini bagi saya adalah pengalaman spiritual pribadi yang mengesankan!,.. menjadi saksi nyata bagaimana sebuah masjid yang di ruangan sama pula terdapat altar, patung Jesus dan ruang ibadah umat Kristen. Mihrab masjid agung ini pun masih asli tak tersentuh perubahan, dengan kaligrafi-kaligrafi indah, juga di beberapa langit-pangitnya. Mihrab ini diberi pagar sekitar 3-4 meter darinya hingga penunjung tak dapat mendekati apalagi menyentuh. Tepat di samping mihrab, terdapat dua buah altar yang mendampinginya, lengkap dengan patung-patung berhiaskan tulisan-tulisan Kristiani.

Sungguh Tuhan maha kuasa untuk menjaga semua ini, menjadikannya bukti bagi umat-umat berikutnya, yaitu Kita dan generasi berikut, sebagai pelajaran penting dan teramat berharga!

Saya pun lanjut berkeliling kompleks museum ini, karena waktu keluar museum adalah pengunjung terakhir maka tidak sempat lagi banyak memotret dan menikmati keindahan taman-taman di dalam nya.

Di ke empat sisi gedung ini, terdapat jalan yang mengelilinginya, dengan lebar sekitar 7-9 m. dapat dilalui kendaraan bermotor, juga terdapat kereta berkuda bagi wisatawan. Jalan berbahan batu ini yang cukup rata ini dipenuhi toko-toko souvenir di beberapa sisi nya, dengan fasade (tampilan depan) khas gaya Spanyol yang cantik. Diinding tembok sekitar 4-5 m. mengelilingi Masjid Cordoba, dengan beberapa pintu besar, berkusen kayu berukir kaligrafi di setiap sisinya.

Saya pun jalan berkeliling gedung  Masjid-Katedral ini sambil melihat-lihat dan memotret, sekaligus mencari tempat yang pas untuk sholat ashar. Mengingat waktu ashar di musim panas disini sekitar jam 5 lebih, sementara maghribnya jam 22:00. Siangnya lebih panjang!... oh iya, suhu tadi siang ketika saya tiba di kota ini adalah 40 derajat celcius. Hufff.....

Malam ini satu Ramadan, saya pun berusaha menemukan masjid di sekitar sini, tapi karena lupa browsing sebelumnya dan tidak dapat wifi gratis di lokasi ini, dengan pertimbangan ingin sekali sholat di masjid ini namun tentu saja tidak boleh karena sudah menjadi museum dan sudah tutup sejak jam 5 tadi, maka saya pun jalan kaki keliling masjid sampai menyeberang ke seberang sungai untuk menikmati keindahan masjid ini dari kejauhan, dengan tetap berharap dapat sholat minimal di lokasi masjid Cordoba.

Maka saya pun memutuskan menanti maghrib disini, di bekas kejayaan dimana suara-suara Mu diperdengarkan 8 abad lalu. Dan sore ini, saya menjadi saksi bahwa suara-suara yang mengagungkanMu tak terdengar lagi dari Masjid Megah ini, dari cakrawala kota ini,... 

Disini, saya menanti sambil terus berharap ada suara adzan, sambil membayangkan betapa jaman kejayaan itu begitu nyata!

Disini, saya menjadi saksi dengan langitmu nan cerah dan matahri yang teramat lambat bersembunyi di balik cakrawala,. menanti maghrib,

Disini, dengan penuh penasaran kapan suara-suara yang mengangungkanMu akan kembali terdengar di langit ini. 

tak terasa, 4 jam lebih saya menanti maghrib.

Marhaban Yaa Ramadan,...  saya menanti dan menyambutmu disini, di depan Masjid Cordoba.

*saya pun menggelar sajadah melakukan iqomah dan sholat sendiri di tepi gerbang masjid sebagaimana tempat sholat ashar tadi.

#CatatanPerjalanan Maulana Ibrahim, Cordoba, 30 Syaban 1434 / 9 Juli 2013.








































Monday, July 8, 2013

Menjemput Ramadan di Eropa

"Ikuti saja lorong setelah restoran ini", sambil menunjukkan arah belok ke kiri, "setelah itu jalan terus hingga ketemu tulisan Masjid". Begitu kata pelayan restoran kebab tempat saya makan siang tadi sore, sekaligus makan malam, karena seharian menikmati indahnya Istana Al Hambra (sejak buka jam 09:00 hingga tutup jam 17:00)

Setelah beristirahat sejenak dan mandi di hostel yang letaknya tidak terlalu jauh dengan resto tersebut, saya pun kembali menjelang maghrib, mengikuti petunjuk yang diberikan tadi. Tetapi,  kok tidak ketemu tulisan Masjid? Apakah saya melewati lorong yang salah atau... Hmm.. Saya pun bertanya kepada pedagang di lorong tersebut. Lorong sempit ini tidak bisa dilalui mobil karena ukurannya kecil, berlantai susunan batu dan sedikit berliku, juga dipenuhi pedagang jalanan (PKL) di sisi-sisinya. Para pedagang ini menawarkan pakaian, kain, lukisan, karpet, pernak-pernik interior dan souvenir khas Granada. 

Melewati lorong ini serasa berada di kisah 1001 malam atau di jaman Sinbad. Bagaimana tidak, lorong ini dipenuhi pedagang-pedagang beratap kain warna-warni, juga terdapat beberapa kafe khas timur tengah, sesekali diseling alunan musik irama padang pasir yang terdengar samar-samar dari dalam kafe yang pencahayaannya temaram, membuat suasana pencarian masjid ini semakin seru, karena dipenuhi  banyak godaan di kiri kanan (godaan ada apa di dalam kafe-kafe tersebut dan sekaligus godaan untuk memotretnya).

Setelah bertanya ke beberapa pedagang, akhirnya, ada seorang ibu paruh baya mau mengantarkan, karena mungkin sulit dijelaskan belokan-belokan nya. Hmm... Ternyata jalannya tidak semudah dan sedekat yang dibayangkan ketika saya mendapat penjelasan dari pelayan restoran tadi. 

Setelah melewati beberapa belokan mulai dari lorong yang ramai dengan pedagang hingga mulai sepi dan menanjak, dengan ibu berkerudung tersebut sebagai penunjuk jalan, akhirnya tiba juga di depan sebuah gedung dengan pintu bertuliskan Masjid At Taqwa, dibawah cahaya lampu seadanya. Jika tidak diantar tadi, saya pasti tidak akan ketemu masjidnya. Gedung-gedung di sepanjang lorong ini terletak sangat rapat satu lainnya, semacam apartemen-apartemen tua dengan balkon dan jendela yang indah di lantai atasnya yang rata-rata berlantai 3. Dan, masjid nya terletak di salah satu gedung tersebut. Seandainya tidak ada tulisan di pintu, maka dipastikan orang baru seperti saya tidak akan mengetahui gedung ini adalah sebuah Masjid. 

Ketika tiba di depan pintu, suasana sudah gelap, meski di musim panas  waktu sore amatlah panjang, maghrib sekitar pukul 22:00.  Pintu yang tertutup rapat itupun saya buka, dan setelah memasukinya, saya pun berwudhu di ruang wudhu lantai dasar dan naik ke lantai atasnya melalui sebuah tangga yang sempit namun kaya ornamen. Sepi,.. hanya terdapat 3 orang di ruangan sholat tersebut dan seorang di lantai dasar tadi yang sedang sholat. Ternyata, saya telat untuk Magrib berjamaah, akhirnya setelah usai sholat maghrib sendiri, saya menghampiri seorang Bapak yang sedang duduk, sembari bertanya tentang Ramadan. "Apakah sekarang sudah masuk Ramadan?" Laki-laki berkulit terang dengan jubah putih, berjanggut dan menggunakan peci putih itupun menjawab , "Masih menunggu pemberitahuan resmi dari Islamic Center di Madrid". Tampak di pojok ruangan sedang terjadi diskusi antara 2 orang bapak-bapak, keduanya juga menggunakan jubah, terdengar sekilas sepertinya mereka sedang membahas tentang Ibadah. Saya pun memutuskan menunggu di masjid tersebut hingga waktu Isha, sambil melihat-lihat koleksi buku dan membaca Quran yang disediakan di ruang sholat tersebut.

Beberapa saat kemudian, seorang Bapak berjubah dan tutup kepala putih membuka jendela dan melangkah ke luar menuju balkon jendela lantai 2 tersebut, kemudian terdengar suara "Allahu akbar Allahu Akbar"...
Saya pun kaget dan langsung menuju jendela bagian belakang dari jendela dimana bapak tersebut berdiri, karena tak mau kehilangan momen untuk memotret, dan sekaligus terpana.... Ketika suara adzan menggema memantul di antara lorong-lorong bangunan sekitarnya. Suasana yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Inilah suara adzan pertama bagi saya di Andalusia, negeri yang ratusan tahun lalu menjadi pusat peradaban Islam di Eropa, lalu kemudian terusir dengan keji. Alhamdulillah masih ada adzan berkumandang di negeri ini.
Betapa menarik dan unik karena ternyata Adzan di masjid ini tidak menggunakan pengeras suara. melainkan si Muadzin langsung menuju balkon dan mengumandangkan adzan sehingga suaranya akan menggema terpantul di antara dinding-dinding batu bata tua disekitarnya, menerobos suara-suara pedagang jalanan tadi dan alunan musik padang pasir. Itulah yang ada di dalam kepala saya, karena mengapa muadzin harus keluar melakukan adzan di balkon jendela lantai dua?...

Seakan terasa kembali ke ratusan tahun silam, ketika Islam pertama masuk ke negeri ini. Subhanallah...
Jadi teringat juga muadzin di Sigi Lamo (Masjid Besar) Kesultanan Ternate di kampung saya, yang muadzinnya juga tidak menggunakan pengeras suara ketika sholat jumat dan hari raya.

Setelah adzan, beberapa orang mulai berdatangan dan jamaah pun melaksanakan sholat sunah dan kemudian dilanjutkan dengan isha berjamaah. Ternyata, setelah isha, diumumkan bahwa malam ini belum masuk 1 Ramadan, sehingga awal puasa akan dimulai lusa, bukan besok. 

Alhamdullilah, artinya besok sore-malam  saya  akan menjemput Ramadan di Cordoba, salah satu pusat peradaban Islam di Eropa. Sengaja saya pilih dua kota ini (Granada & Cordoba) di saat awal Ramadhan, untuk mengenang kembali betapa kejayaan dan sekaligus kehancuran Islam di Andalusia.



#CatatanPerjalanan , Granada, 8 Juli 2013.

(Bersambung ke: Ramadan di Cordoba)

Restoran Kebab tempat saya makan sore. 
pengrajin Kaligrafi di teras restoran, masih terlihat sisa-sisa Islam di kota ini.  Hanya dengan 1 euro pengunjung mendapatkan tulisan nama mereka dalam kaligrafi (tulisan Arab)



suasana di depan lorong sebelum masuk berliku-liku

mulai memasuki lorong

lorong yang mulai sepi dan sedikit menanjak

pintu dengan tulisan Masjid At Taqwa
  

Tangga menuju ruang sholat utama di lantai 2.

Muadzin (terlihat sebagian badan dan tanganna di sebelah kiri) yang sedang mengumandangkan adzan di balkon jendela lantai 2 Masjid At Taqwa, Granada.