Foto dan naskah oleh : Maulana Ibrahim (c) 2008. Bila mengutip dan/atau menggunakan sebagian atau keseluruhan isi artikel dan/atau foto-foto dalam artikel ini wajib menyebutkan sumber /copyright.
Rumah tradisional Ternate (Rumah yang dibangun sesuai tradisi orang Ternate), terdiri atas berbagai jenis, oleh masyarakat Ternate, penamaan rumah-rumah ini berdasarkan sistem konstruksi, bentuk atap, dan material yang dominan terlihat/digunakan, yaitu:
dinamakan sesuai sistem struktur:
1. Fala Kanci (Rumah Kancing), disebut rumah kancing karena sistem struktur rumah ini menggunakan sistem struktur rangka kayu yang tersambung dengan tidak menggunakan paku. Rumah jenis ini paling populer, karena jumlahnya masih dominan hingga sekarang.
2. Fala Gaku (Rumah Panggung), adalah rumah yang lantai dasarnya tidak langsung menyentuh tanah atau terletak di atas panggung/konstruksi pondasi panggung. Rumah jenis ini sudah mulai jarang ditemukan, biasa terdapat di pesisir pantai dan di pegunungan.
dinamakan sesuai bentuk atap:
3. Fala Mafana Romtoha (Rumah dengan lima bubungan atap), adalah penamaan bagi rumah yang menggunakan atap berbentuk limas atau atap limasan, yang membentuk 5 garis bubungan atap.
4. Fala Boga (Rumah dengan bentuk atap yang di"bengkok"kan)
dinamakan sesuai bahan/material yang dominan digunakan:
5. Fala Tabadiku (Rumah Bambu), adalah rumah yang bahan/material dominannya adalah bambu, berupa struktur rangka, dinding, daun pintu, daun jendela, dan elemen-elemen estetika lainnya.
6. Fala Gaba-gaba (Rumah berbahan dominan 'gaba' atau pelepah batang pohon sagu), biasanya memiliki atap limasan dengan struktur rangka kayu atau bambu, dengan seluruh bahan dinding dan/atau plafon menggunakan pelepah batang sagu (gaba-gaba).
7. Fala Seng (Rumah yang beratap seng), ini adalah penamaan bagi rumah bangsawan Ternate, sebelumnya adalah rumah Sultan sebelum menjabat, terletak di Kelurahan Soa Sio, sebelah timur Masjid Sultan (Sigi Lamo). Disebut Fala Seng karena inilah rumah pertama yang menggunakan atap berbahan seng, pada jaman penjajahan Jepang (1942-1945). Rumah ini juga memiliki nama lain, yaitu Kadato Ici (Istana Kecil).
Dengan demikian, sebuah rumah bisa disebut lebih dari satu nama tersebut di atas. Misal, sebuah rumah tradisional yang dibangun dengan material dominan bambu dan memiliki atap yang di'bengkok'kan maka rumah tersebut dapat disebut Fala Boga dan Fala Tabadiku. Demikian juga jika rumah tradisional dengan sistem struktur rangka kayu dan memiliki atap limasan, maka dapat disebut Fala Kanci dan Fala Mafana Romtoha. Penamaan tersebut juga dapat digunakan satu nama saja tergantung elemen mana yang lebih dominan.
Esai foto kali ini hanya membahas tentang Fala Boga, sementara jenis rumah lainnya akan dibahas terpisah. Karena saya sangat beruntung bisa menikmati proses pembuatan rumah ini, maka pesan utama dalam esai kali ini adalah 'proses'. Bagaimana rumah (Fala Boga) yang semakin jarang dibangun ini dapat disaksikan proses pembuatannya, oleh para tukang lokal yang masih memiliki keterampilan warisan leluhur, menunjukkan bagaimana para tukang Ternate mengolah material lokal berupa bambu, ijuk, daun sagu, dengan keterampilan,/kecakapan (skill) yang handal.
Dalam bahasa Ternate, Fala berarti Rumah dan Boga dapat diartikan bagian yg ditekuk/bengkokkan.
Dinamakan Fala Boga karena bentuk atap (limasan) yg seperti di'bengkok'kan ke samping kiri dan kanan (melintang ukuran rumahnya). Karena meterial dari rumah ini sebagian besar dari Bambu, maka rumah jenis ini juga sering disebut Fala Tabadiku atau Rumah Bambu.
Rumah ini adalah satu jenis rumah tradisional di Ternate. Dibangun dengan bahan Bambu, dengan konstruksi yg dapat dilepas, sehingga rumah ini dapat berpindah-pindah, karena dapat diBuat dan diRakit kembali di tempat yang berbeda. Semua bahan rumah ini adalah bahan-bahan lokal, berupa Bambu (untuk dinding, pintu, jendela dan rangka atap) dan katu (daun sagu) sebagai penutup atap. Sambungan antara bambu diperkuat juga dengan ikatan gumutu (ijuk).
Saat ini, Tukang yang membuat rumah ini jumlahnya semakin terbatas, umumnya mereka juga sebagai pengrajin bambu, yang biasa membuat perabot dari bambu, berupa meja, kursi, lampu, dan lainnya.
Pada Pesta Rakyat Legu Gam 2008, rumah ini dibangun sebagai salah satu peserta pameran, dengan mendatangkan para tukang dari Torano, salah satu kampong pengrajin bambu di Ternate.
Senang rasanya dapat melihat langsung proses pembuatan rumah yang sudah mulai sulit ditemukan ini (atau bisa dikatakan sudah mulai punah), dipersiapkan dan dibangun dengan bahan lokal dan alat tradisional oleh para tukang lokal.
Foto-foto ini adalah beberapa proses pembangunan Fala Boga, berupa persiapan tali gumutu (ijuk) yang dibuat secara tradisional, persiapan bambu-bambu sebagai bahan dinding, pintu, jendela dan rangka atap, dan katu (daun sagu) sebagai penutup atap. di Sunyie Lamo, Maret 2008, dalam persiapan Pesta Rakyat Legu Gam Moloku Kie Raha, April 2008.
Foto dan naskah oleh : Maulana Ibrahim (c) 2008. Jika mengutip dan/atau menggunakan sebagian atau keseluruhan isi artikel dan/atau foto-foto dalam artikel ini wajib menyebutkan sumber /copyright.

















No comments:
Post a Comment