"Ikuti saja lorong setelah restoran ini", sambil menunjukkan arah belok ke kiri, "setelah itu jalan terus hingga ketemu tulisan Masjid". Begitu kata pelayan restoran kebab tempat saya makan siang tadi sore, sekaligus makan malam, karena seharian menikmati indahnya Istana Al Hambra (sejak buka jam 09:00 hingga tutup jam 17:00)
Setelah beristirahat sejenak dan mandi di hostel yang letaknya tidak terlalu jauh dengan resto tersebut, saya pun kembali menjelang maghrib, mengikuti petunjuk yang diberikan tadi. Tetapi, kok tidak ketemu tulisan Masjid? Apakah saya melewati lorong yang salah atau... Hmm.. Saya pun bertanya kepada pedagang di lorong tersebut. Lorong sempit ini tidak bisa dilalui mobil karena ukurannya kecil, berlantai susunan batu dan sedikit berliku, juga dipenuhi pedagang jalanan (PKL) di sisi-sisinya. Para pedagang ini menawarkan pakaian, kain, lukisan, karpet, pernak-pernik interior dan souvenir khas Granada.
Melewati lorong ini serasa berada di kisah 1001 malam atau di jaman Sinbad. Bagaimana tidak, lorong ini dipenuhi pedagang-pedagang beratap kain warna-warni, juga terdapat beberapa kafe khas timur tengah, sesekali diseling alunan musik irama padang pasir yang terdengar samar-samar dari dalam kafe yang pencahayaannya temaram, membuat suasana pencarian masjid ini semakin seru, karena dipenuhi banyak godaan di kiri kanan (godaan ada apa di dalam kafe-kafe tersebut dan sekaligus godaan untuk memotretnya).
Setelah bertanya ke beberapa pedagang, akhirnya, ada seorang ibu paruh baya mau mengantarkan, karena mungkin sulit dijelaskan belokan-belokan nya. Hmm... Ternyata jalannya tidak semudah dan sedekat yang dibayangkan ketika saya mendapat penjelasan dari pelayan restoran tadi.
Setelah melewati beberapa belokan mulai dari lorong yang ramai dengan pedagang hingga mulai sepi dan menanjak, dengan ibu berkerudung tersebut sebagai penunjuk jalan, akhirnya tiba juga di depan sebuah gedung dengan pintu bertuliskan Masjid At Taqwa, dibawah cahaya lampu seadanya. Jika tidak diantar tadi, saya pasti tidak akan ketemu masjidnya. Gedung-gedung di sepanjang lorong ini terletak sangat rapat satu lainnya, semacam apartemen-apartemen tua dengan balkon dan jendela yang indah di lantai atasnya yang rata-rata berlantai 3. Dan, masjid nya terletak di salah satu gedung tersebut. Seandainya tidak ada tulisan di pintu, maka dipastikan orang baru seperti saya tidak akan mengetahui gedung ini adalah sebuah Masjid.
Ketika tiba di depan pintu, suasana sudah gelap, meski di musim panas waktu sore amatlah panjang, maghrib sekitar pukul 22:00. Pintu yang tertutup rapat itupun saya buka, dan setelah memasukinya, saya pun berwudhu di ruang wudhu lantai dasar dan naik ke lantai atasnya melalui sebuah tangga yang sempit namun kaya ornamen. Sepi,.. hanya terdapat 3 orang di ruangan sholat tersebut dan seorang di lantai dasar tadi yang sedang sholat. Ternyata, saya telat untuk Magrib berjamaah, akhirnya setelah usai sholat maghrib sendiri, saya menghampiri seorang Bapak yang sedang duduk, sembari bertanya tentang Ramadan. "Apakah sekarang sudah masuk Ramadan?" Laki-laki berkulit terang dengan jubah putih, berjanggut dan menggunakan peci putih itupun menjawab , "Masih menunggu pemberitahuan resmi dari Islamic Center di Madrid". Tampak di pojok ruangan sedang terjadi diskusi antara 2 orang bapak-bapak, keduanya juga menggunakan jubah, terdengar sekilas sepertinya mereka sedang membahas tentang Ibadah. Saya pun memutuskan menunggu di masjid tersebut hingga waktu Isha, sambil melihat-lihat koleksi buku dan membaca Quran yang disediakan di ruang sholat tersebut.
Beberapa saat kemudian, seorang Bapak berjubah dan tutup kepala putih membuka jendela dan melangkah ke luar menuju balkon jendela lantai 2 tersebut, kemudian terdengar suara "Allahu akbar Allahu Akbar"...
Saya pun kaget dan langsung menuju jendela bagian belakang dari jendela dimana bapak tersebut berdiri, karena tak mau kehilangan momen untuk memotret, dan sekaligus terpana.... Ketika suara adzan menggema memantul di antara lorong-lorong bangunan sekitarnya. Suasana yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Inilah suara adzan pertama bagi saya di Andalusia, negeri yang ratusan tahun lalu menjadi pusat peradaban Islam di Eropa, lalu kemudian terusir dengan keji. Alhamdulillah masih ada adzan berkumandang di negeri ini.
Betapa menarik dan unik karena ternyata Adzan di masjid ini tidak menggunakan pengeras suara. melainkan si Muadzin langsung menuju balkon dan mengumandangkan adzan sehingga suaranya akan menggema terpantul di antara dinding-dinding batu bata tua disekitarnya, menerobos suara-suara pedagang jalanan tadi dan alunan musik padang pasir. Itulah yang ada di dalam kepala saya, karena mengapa muadzin harus keluar melakukan adzan di balkon jendela lantai dua?...
Inilah suara adzan pertama bagi saya di Andalusia, negeri yang ratusan tahun lalu menjadi pusat peradaban Islam di Eropa, lalu kemudian terusir dengan keji. Alhamdulillah masih ada adzan berkumandang di negeri ini.
Betapa menarik dan unik karena ternyata Adzan di masjid ini tidak menggunakan pengeras suara. melainkan si Muadzin langsung menuju balkon dan mengumandangkan adzan sehingga suaranya akan menggema terpantul di antara dinding-dinding batu bata tua disekitarnya, menerobos suara-suara pedagang jalanan tadi dan alunan musik padang pasir. Itulah yang ada di dalam kepala saya, karena mengapa muadzin harus keluar melakukan adzan di balkon jendela lantai dua?...
Seakan terasa kembali ke ratusan tahun silam, ketika Islam pertama masuk ke negeri ini. Subhanallah...
Jadi teringat juga muadzin di Sigi Lamo (Masjid Besar) Kesultanan Ternate di kampung saya, yang muadzinnya juga tidak menggunakan pengeras suara ketika sholat jumat dan hari raya.
Jadi teringat juga muadzin di Sigi Lamo (Masjid Besar) Kesultanan Ternate di kampung saya, yang muadzinnya juga tidak menggunakan pengeras suara ketika sholat jumat dan hari raya.
Setelah adzan, beberapa orang mulai berdatangan dan jamaah pun melaksanakan sholat sunah dan kemudian dilanjutkan dengan isha berjamaah. Ternyata, setelah isha, diumumkan bahwa malam ini belum masuk 1 Ramadan, sehingga awal puasa akan dimulai lusa, bukan besok.
Alhamdullilah, artinya besok sore-malam saya akan menjemput Ramadan di Cordoba, salah satu pusat peradaban Islam di Eropa. Sengaja saya pilih dua kota ini (Granada & Cordoba) di saat awal Ramadhan, untuk mengenang kembali betapa kejayaan dan sekaligus kehancuran Islam di Andalusia.
#CatatanPerjalanan , Granada, 8 Juli 2013.
(Bersambung ke: Ramadan di Cordoba)
![]() |
| pengrajin Kaligrafi di teras restoran, masih terlihat sisa-sisa Islam di kota ini. Hanya dengan 1 euro pengunjung mendapatkan tulisan nama mereka dalam kaligrafi (tulisan Arab) |








Subhanallah, moment yg benar2 luar biasa. Sambut ramadhan di kota perpustakaan islam terbesar dan terbaik sepanjang masa yg sampai2 mampu mengeluarkan eropa dari abad kegelapan..ente memang luar biasa.
ReplyDeleteDan memang dasarnya penulis sekaligus editor, pembukaan ceritanya lg2 sungguh menarik perhatian.👍👍👍
Terimaksih komennya Bro,.. Saat ini Islam minoritas disana, semoga bisa kembali lagi. Dan, komen paragraf terakhir berlebihan tuh,.. saya hanya tulis apa yang dirasakan/dialami saja :)
DeleteMa sya Allah beruntungnya Anda dapat menikmati dan merasakan suasana Ramadhan beserta napak tilas sejarah di Andalusia. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi penyemangat dalam meniti kebangkitan selanjutnya. terima kasih atas tulisan dan informasi terkininya Mas Maulana. Ig @aprilia.meli
ReplyDelete👍❤
ReplyDelete