Monday, June 4, 2012

6 jam di Istanbul

#CatatanPerjalanan, Istanbul, 4 Juni 2012.

"You have four hours transit in Istanbul, is it OK?"
"...hmm... is there any longer? " *berharap ada yang 12 jam 
"ouw,..There is six hours transfer time, do you want it?" Tanya si petugas tiket dgn wajah aneh 
"Yes, I take it" *daripada cuma 4 jam :)

Obrolan antara saya dengan petugas tiket di agen kampus di atas menjadi alasan  untuk menginjakkan kaki pertama kalinya di Kota Istanbul, dengan tujuan utama menikmati karya-karya arsitektur Islam terbaik. Yah, mengapa tidak, ini kesempatan sekali seumur hidup, kapan lagi bisa melihat langsung kompleks Ottoman, Masjid Sultan Ahmed I, dan Hagia Sophia (Ayasofia)?...

Tidak banyak memang target  untuk kunjungan yang sebenarnya hanya transit ini, iyah, transit menuju Gotenburg, dari Osaka menggunakan Turkish airlines.

Setelah membayar 25 USD di loket visa on arrival bandara Istanbul, saya langsung bergegas menuju pusat informasi, menanyakan transportasi tercepat menuju destinasi yang sudah di target tersebut, karena jam 12:30 siang sudah lanjut terbang lagi. Dan,..kereta api menjadi pilihan, selain paling murah, juga karena hanya butuh waktu sekitar 20 menit saja.

Udara pagi yang sejuk dan belum tampak kesibukan kota, karna masih jam 7 kurang dan kereta pun membawa saya ke Halte terdekat Masjid Sultan Ahmed atau lebih dikenal dengan nama Blue Mosque. Dinamakan demikian karena sebagian besar warna interiornya adalah biru. Setibanya di pelataran masjid, saya belum bisa masuk karena jam buka Masjid untuk kunjungan wisatawan adalah jam 9. Sekitar 2 jam saya habiskan untuk menikmati  suasana sekitar masjid dengan burung-burung yg semakin ramai beterbangan.

Pelataran yang cukup luas dan sangat fotogenik ini membuat waktu menunggu dua jam pun tak terasa, sambil menikmati segarnya udara pagi setelah 12 jam duduk di dalam pesawat. Akhirnya, setelah antri di loket tiket, saya pun masuk bersama wisatawan yg sebagian besar orang Eropa. Karena musim panas, pakaian mereka layaknya pakaian orang-orang Eropa umumnya, sehingga oleh aturan masjid mereka harus menutup aurat. Ternyata kain-kain biru yg lembut sudah disiapkan di loket tiket, diberikan khusus kepada pengunjung perempuan sebelum memasuki masjid. Alur pergerakan wisatawan pun sudah diatur, dimana ruang tengah dan ruang depan tidak boleh dilalui, karena diberi penghalang berupa pagar kayu yang dapat dipindah ketika waktu sholat. Untuk menghormati jamaah yang sholat, maka kunjungan akan ditutup sejenak ketika masuk waktu duhur dan ashar. Sungguh manajemen pengelolaan Masjid yang menarik dan patut dicontohi untuk Pariwisata yang menghargai karakter destinasi. 

Jauh-jauh masuk masjid masa tidak sholat? Akhirnya saya pun bergegas keluar ambil wudhu, dan diizinkan untuk melewati pembatas kayu tersebut untuk melakukan sholat sunah. Alhamdullilah, usai sholat bisa menikmati mimbar dan mihrab dari dekat sambil menyentuhnya. Mimbar dgn jumlah anak tangga yang begitu banyak sehingga Khatib akan terlihat meski dari saf paling belakang. Posisi mimbar berada di samping kanan mihrab, mirip dengan posisi mimbar masjid-masjid di Nusantara, termasuk masjid kesultanan Ternate, Sigi Lamo.

Oh iya, Masjid yang dibangun pada 1609 sampai 1616 pada masa pemerintahan Sultan Ahmad I ini masih berfungsi dengan baik sebagaimana masjid umumnya dengan fungsi tambahan sebagai monumen atau di Indonesia dikenal dengan istilah Cagar Budaya. Masjid ini merupakan masjid terbesar di jaman Turki Ottoman dengan ukuran lebar 65 M dan panjang 73 m yang dapat menampung sekitar 10,000 jamaah. Dibangun di bekas istana Kekaisaran Bizantium, tepat di depan basilika Hagia Sophia (sehingga bentuknya sedikit mirip) dengan jumlah menara 6 buah, yang hanya bisa dimiliki oleh masjid Ottoman. 

Dengan demikian, kompleks Istana Turki Ottoman, masjid & basilika dapat dikunjungi dengan jangkauan jalan kaki. Di dalam museum Istana Topkapi terdapat koleksi salah satu bekas tapak kaki Rasulullah SAW. yang sayangnya tidak sempat dikunjungi karena antrean panjang dan waktu yang terbatas. (Mungkin ini pertanda kuat bahwa saya harus kembali ke sini). :) 

Oh iya, setelah mengunjungi objek-objek ini saya pun memutuskan ikut Bus keliling pusat Kota, City Tour, mengingat waktu kunjungan yang sangat terbatas. Bus pun melewati semua situs dan bangunan bersejarah, dimana penumpang dapat turun dan naik lagi dgn bus berikutnya, tentu saja dengan sekali bayar di muka. Peta lengkap dan pemandu di dalam Bus siap menjelaskan semua destinasi tersebut, termasuk ketika melewati jembatan yg menghubungkan Turki Daratan Asia dan Turki daratan Eropa. Banyak orang tua yang mancing di jembatan ini.

Saya memutuskan turun di dekat terminal Kota Istanbul, semacam terminal pusat untuk semua angkutan darat. Hanya sekedar ingin melihat dan menikmati geliat kehidupan kota yang penduduknya belasteran Asia dan Eropa ini. Perempuan-perempuannya Sekilas mirip wajah-wajah di Falajawa, salah satu kawasan pemukiman tua di Ternate. Pantas saja,.. Wanita Falajawa di Ternate begitu aduhai.... 

Dan, dari terminal angkot tsb, saya terpaksa harus naik Taxi mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 11:45, ya! Saya hanya punya 45 menit sebelum pesawat take Off. Beruntunglah si sopir Taxi yang tak fasih berbahasa Inggris itu terbiasa ngebut bak film Taxi. Sempat berdebar meski telah diberi sebotol minuman air mineral oleh si sopir, mungkin karena melihat tampang khawatir saya dari kaca spion nya.

Akhirnya,.. 6 jam yg ngebut bisa dilalui di Istanbul. Kota yang pantas untuk dikunjungi kembali.

*semua foto2 disini adalah hasil jepretan dari hape saya, maklum yg dari DSLR belum sempat ditampilkan








Q
















5 comments:

  1. Berasa seperti ada di Istanbul skarang....

    ReplyDelete
  2. Pengen ke sana, tp setelah ke Madinah dan Makkah dulu dech...😂

    ReplyDelete
  3. Ajarin nulis donk...penyampaian ceritanya asyik, tra bertele2, ringkas tp kita bisa dibawa keliling turki 👍👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimaksih komen2nya,
      Saya baru belajar nulis juga kok... Ayo posting cerita dari Ternate :)

      Delete