Sunday, June 10, 2012

Goteborgs Universitet; tampil perdana di Eropa!

#CatatanPerjalanan, Gothenburg, 5-9 Juni 2012.

Tanpa berlama-lama tidur menyesuaikan Jet lag (apa karena terlalu bersemangat kali yah...) saya pun berhasil bangun Pagi, hari yang cukup sejuk di akhir musim semi; ketika di Osaka suhu siang hari  sudah di atas 20-an derajat Celcius, disini baru mendekati 20. Setelah sarapan dengan memasak sendiri di dapur Hostel, saya pun menuju universitas Gothenburg, tempat akan mempresentasikan makalah. Trem menjadi pilihan utama, karena memang inilah angkutan kota terbaik yang ada, sebagaimana kota-kota lainnya di Eropa. Dari Hostel tempat menginap butuh 3 menit jalan kaki ke halte trem dan sekitar 9 menit sudah sampai di halte depan kampus,  lanjut  3 menit jalan kaki untuk sampai ke gedung tempat acara, yaitu di Gedung Seminar.

Gedung ini memiliki beberapa auditorium termasuk sebuah auditorium utama tempat dimana acara pembukaan Seminar. Di ruang lobi selain disajikan pameran poster, juga terdapat beberapa ruang khusus para sponsor acara, terdiri atas lembaga penelitian, Jurnal Internasional dan Penerbit Buku. Membuat para peserta Konferensi Internasional ini dimanjakan oleh berbagai buku berkualitas dengan harga spesial alias diskon. 

Konferensi yang saya ikuti ini (5-8 Juni 2012) adalah Konferensi perdana para peneliti di bidang Heritage (di Indonesia disebut Pusaka/Warisan Budaya), yang bernaung dalam Association of Critical Heritage Studies (ACHS). Anggotanya tidak hanya dari bidang Arsitektur semata, tetapi dari berbagai disiplin ilmu yang kebanyakan dari ilmu-ilmu sosial budaya. Disinilah saya merasa beruntung karena dapat menimba ilmu-ilmu sosial dan bertukar pikiran dengan para peneliti dari berbagai belahan dunia, karena peserta konferensi ini sekitar 300 orang dari semua benua (kecuali Antartika :) ), dan ternyata peserta yang berasal dari Indonesia hanya dua orang, Saya dan Ibu Cut Dewi dari Arsitektur Universitas Syahkuala, Aceh; cukup mewakili lah, satu dari timur satunya lagi dari ujung Barat. Oh iya, peserta anak muda seumuran 20-an juga banyak.

Sebagaimana jadwal yang sudah dikirim panitia melalui email, giliran saya presentasi pada hari ke-3 acara, dimana hari ke-4 adalah hari terakhir yang disertai penutupan dan keesokan harinya atau hari ke-5 ada acara tambahan berupa Jelajah Pusaka Kota Gothenburg, yang dipandu oleh para penulis buku (re)Searching  Gothenburg. Menarik! 

Di acara ini saya berkenalan dengan beberapa peneliti muda baik masih mahasiswa maupun dosen muda, dari berbagai belahan bumi. Berbagi pengalaman biasanya terjadi ketika rehat kopi dan lebih-lebih pada saat makan siang bersama. Seru juga ada teman baru dari Singapura mengomentari saya ketika membaca name tag, "Maulana Ibrahim?  I think you from Maroko?" :) . Saya pun mengejarnya dengan bertanya mengapa berpikir demikian?... dengan enteng dia menjawab, nama nya maulana dan asal institusi nya Khairun, tentu yang terbayang semacam negara muslim. 

Tapi mengapa Maroko yah?... Apa karena tampang saya kah? :)) 

Akhirnya sebelum tiba giliran saya di hari ke-3, dua hari pertama saya habiskan dengan mengikuti presentasi2 yg terbagi atas beberapa ruang paralel yang jalan bersama waktunya. Disini manajemen waktu sangat diperlukan, agar tidak ketinggalan tema-tema yang kita senangi dalam acara konferensi. Setelah jam 5 acara berakhir di setiap harinya, saya sempatkan jalan di pusat kota sambil memotret, sebelum Maghrib yang jam 21:45.

Yang menarik dari konferensi internasional semacam ini adalah, pertukaran ide dan pemikiran sangatlah asyik mengalir, tanpa ada hambatan waktu atau lainnya. Karena memang acaranya sengaja diatur demikian. Disinilah para peneliti berkesempatan untuk berbagi hasil-hasil temuannya, bahkan ada beberapa mahasiswa S2 yang baru mulai meneliti juga ikut dengan mempresentasikan proposal risetnya, tentu keuntungan tersendiri karena mereka mendapat banyak masukan dari banyak orang juga.

Intinya, di acara yang awalnya sempat membuat jantung berdebar ini, adalah kesempatan berbagi ide dan bertukar pemikiran sekaligus menjalin persahabatan. Oh iya, saya pun berkenalan dengan mahasiswa S2 dari Universitas Leiden, sambil bertanya-tanya tentang kampusnya, kebetulan dia meneliti tentang Indonesia. Ada sekitar 2 orang yang meneliti batik Indonesia presentasi di acara ini, dia yang  berasal dari Amerika dan satunya lagi dari Australia.

Dan menariknya, ketika peneliti dari Australia  mempresentasikan makalahnya, dia mempersilakan saya menjawab pertanyaan yang diajukan salah satu penanya, betapa kagetnya saya di ruangan tersebut, karena baru kali ini saya temui ada sesi tanya jawab yg presenternya menyerahkan peserta untuk ikut menjawab. Pertanyaan yang diajukan tentang persepsi orang Indonesia terhadap batik maka saya pun bercerita bagaimana batik dipakai luas di tanah air terkait kebijakan Pemerintah, padahal Indonesia tidak hanya memiliki batik, masih banyak kain tenun atau ikat yang sangat indah dan khas daerah-daerah di Indonesia. Disinilah kejujuran dalam diri seorang peneliti, dipraktikkan langsung oleh teman dari Australia tersebut, dia merasa pertanyaan tersebut lebih tepat jika dijawab oleh orang Indonesia -yang kebetulan ada di ruangan- sehingga peserta juga puas, maka tanpa berpikir lama dia mempersilakan saya untuk menjawabnya. Memang sebelumnya kami sudah saling berkenalan di jam rehat kopi, dan tentunya sedikit bercerita tentang batik.  :)

Hari ke-3 pun tiba, giliran saya presentasi!.... 
Teman-teman baru dari NUS & Leiden pun hadir di ruangan saya dan ikut bertanya sekaligus memberikan beberapa masukan. Seru!!... Sayapun semakin banyak pengetahuan tentang tema riset urban heritage. Hal yang lumayan baru dan sangat menarik bagi saya. 

Akhirnya, perasaan lega dan bayangan jalan-jalan usai presentasi pun semakin menguat, ditambah pula sore itu kami peserta konferensi diundang makan malam di Balaikota Gothenburg, sebuah gedung tua di pusat kota dengan gaya renaissance.

Konferensi perdana saya di Eropa ini benar-benar berkesan!, selain karena banyak ilmu yang diperoleh, juga karena banyak sahabat baru dan tentu saja kesempatan mengenal kota Gothenburg setelah penutupan acara dengan kegiatan Jelajah Kota. Panitianya benar-benar mempersiapkan acara ini dengan matang, Salute untuk Universitas Gothenburg.

Tak terasa, hampir seminggu saya di Swedia,.... Siap-siap melanjutkan perjalanan ke bagian Eropa lainnya.



*semua foto-foto disini adalah hasil jepretan hape saya, maklum yg dari DSLR belum sempat ditampilkan :)

Trem, transportasi publik dalam kota Gothenburg.
   


 Pemandangan dari Ruang makan Hostel ke jalan utama. Disini setiap pagi saya biasa sarapan.
  

Dapur Hostel tempat saya biasa memasak sarapan & makan malam.
    

 Suasana Lobi utama gedung Seminar di saat rehat kopi, tampak di lantai dua adalah ruang makan siang.
   

Jalan setapak di dalam kampus Universitas Gothenburg yang asri karena dikelilingi rumput dan pohon.
    

 Salah satu gedung di kampus Universitas Gothenburg.
   

Suasana presentasi makalah oleh beberapa peserta Konferensi.
   

  Para sponsor jualan buku dengan harga diskon.


  Saya bersama Ibu Cut Dewi & Roran (Ki-Ka) berfoto di tangga Gedung Balaikota Gothenburg, tempat peserta Konferensi dijamu makan malam oleh Pemerintah Kota.




Suasana makan siang bersama para peneliti & dosen muda juga sebagai saat terbaik bertukar pengalaman

     
Makan malam menu Italia (vegetarian)bersama ibu Cut Dewi dan Meredith, peneliti Batik dari Universitas Leiden di salah satu Resto dekat Hostel.
     

3 comments:

  1. Tentang si org australia yg meminta anda menjawab tentang batik, krna memanggap anda org indonesia, menurut saya tu org asutralia sangat2 ahli...dia benar2 tau kpn menyerahkan suatu masalah kpd ahlinya. Dan sbgai org Islam kita hrsnya lbh ahli dri org australia itu, krna nabi sudh ajarkan hal itu jauuuuuuuuh seblum dunia ini terang (alias msh di jaman jahiliyah), tp sya ttp merasa takjub dgn org australia itu...knpa???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur dofu2 Noval,.. kejujuran manusia adalah hal dasar yang harus terus dipelihara, sebagaimana ilmuan tersebut begitu jujur mempraktekkannya di forum internasional. Dia telah mempraktekkan ajaran Nabi sejak ratusan tahun lalu, bagaima dgn kita?.. #NotesToMySelf. Dan,.. kenapa masih merasa takjub?..

      Delete
  2. Nah itu dia kan yg aneh, knpa sya msh merasa takjub dgn tindakan ilmuan itu, pdhal dri lahir sya sdh islam, orang tua juga Alhamdulillah penganut islam yg taat (dalam hal ritual, stidaknya) tp sya ttp merasa takjub seakan itu hal yg baru ditemukan dan sangat2 msuk di akal. Smua itu klo menurut sya krna faktor pendidikan yg ditrima oleh anak2 negeri ini...klo sya mo bahas menurut pemikiran bodok sya, akan panjang skli mas 😀😀😀

    ReplyDelete