Tuesday, July 9, 2013

Awal Ramadan di Cordoba

Tepat jam 5 sore, para petugas keamanan museum Mezquita–catedral de Córdoba atau The Great Mosque of Cordoba mulai mempersilahkan pengunjung untuk segera meninggalkan ruangan museum, bagi saya, serasa waktu yang sangat sempit untuk menikmati keindahan maha karya Arsitektur yang menjadi acuan interior masjid Nabawi, disiasati dengan sedikit berkeliling mendhindari satpam-satpam tersebut, di sela-sela tiang yang banyak jumlahnya, mereka sekitar 4-5 orang yang bertugas mengarahkan pengunjung untuk menuju pintu keluar, walhasil sedikit kucing-kucingan antara saya dengan Satpam tersebut menjadikan saya sebagai penunjung terakhir yang keluar dari gedung megah ini. Belum puas memang, bagaimana tidak,...keindahan interiornya membuat mata terbelalak dan tangan pun tak sempat menyentuh tombol Jepret.

Mengagumi keindahan interior masjid ini bagi saya adalah pengalaman spiritual pribadi yang mengesankan!,.. menjadi saksi nyata bagaimana sebuah masjid yang di ruangan sama pula terdapat altar, patung Jesus dan ruang ibadah umat Kristen. Mihrab masjid agung ini pun masih asli tak tersentuh perubahan, dengan kaligrafi-kaligrafi indah, juga di beberapa langit-pangitnya. Mihrab ini diberi pagar sekitar 3-4 meter darinya hingga penunjung tak dapat mendekati apalagi menyentuh. Tepat di samping mihrab, terdapat dua buah altar yang mendampinginya, lengkap dengan patung-patung berhiaskan tulisan-tulisan Kristiani.

Sungguh Tuhan maha kuasa untuk menjaga semua ini, menjadikannya bukti bagi umat-umat berikutnya, yaitu Kita dan generasi berikut, sebagai pelajaran penting dan teramat berharga!

Saya pun lanjut berkeliling kompleks museum ini, karena waktu keluar museum adalah pengunjung terakhir maka tidak sempat lagi banyak memotret dan menikmati keindahan taman-taman di dalam nya.

Di ke empat sisi gedung ini, terdapat jalan yang mengelilinginya, dengan lebar sekitar 7-9 m. dapat dilalui kendaraan bermotor, juga terdapat kereta berkuda bagi wisatawan. Jalan berbahan batu ini yang cukup rata ini dipenuhi toko-toko souvenir di beberapa sisi nya, dengan fasade (tampilan depan) khas gaya Spanyol yang cantik. Diinding tembok sekitar 4-5 m. mengelilingi Masjid Cordoba, dengan beberapa pintu besar, berkusen kayu berukir kaligrafi di setiap sisinya.

Saya pun jalan berkeliling gedung  Masjid-Katedral ini sambil melihat-lihat dan memotret, sekaligus mencari tempat yang pas untuk sholat ashar. Mengingat waktu ashar di musim panas disini sekitar jam 5 lebih, sementara maghribnya jam 22:00. Siangnya lebih panjang!... oh iya, suhu tadi siang ketika saya tiba di kota ini adalah 40 derajat celcius. Hufff.....

Malam ini satu Ramadan, saya pun berusaha menemukan masjid di sekitar sini, tapi karena lupa browsing sebelumnya dan tidak dapat wifi gratis di lokasi ini, dengan pertimbangan ingin sekali sholat di masjid ini namun tentu saja tidak boleh karena sudah menjadi museum dan sudah tutup sejak jam 5 tadi, maka saya pun jalan kaki keliling masjid sampai menyeberang ke seberang sungai untuk menikmati keindahan masjid ini dari kejauhan, dengan tetap berharap dapat sholat minimal di lokasi masjid Cordoba.

Maka saya pun memutuskan menanti maghrib disini, di bekas kejayaan dimana suara-suara Mu diperdengarkan 8 abad lalu. Dan sore ini, saya menjadi saksi bahwa suara-suara yang mengagungkanMu tak terdengar lagi dari Masjid Megah ini, dari cakrawala kota ini,... 

Disini, saya menanti sambil terus berharap ada suara adzan, sambil membayangkan betapa jaman kejayaan itu begitu nyata!

Disini, saya menjadi saksi dengan langitmu nan cerah dan matahri yang teramat lambat bersembunyi di balik cakrawala,. menanti maghrib,

Disini, dengan penuh penasaran kapan suara-suara yang mengangungkanMu akan kembali terdengar di langit ini. 

tak terasa, 4 jam lebih saya menanti maghrib.

Marhaban Yaa Ramadan,...  saya menanti dan menyambutmu disini, di depan Masjid Cordoba.

*saya pun menggelar sajadah melakukan iqomah dan sholat sendiri di tepi gerbang masjid sebagaimana tempat sholat ashar tadi.

#CatatanPerjalanan Maulana Ibrahim, Cordoba, 30 Syaban 1434 / 9 Juli 2013.








































3 comments:

  1. Luar biasa, cerita yang sangat menarik...jujur, dari semua tulisan ente yg ane baca, baru ini yg bkin aer mata takumpul...ane suka skli, coz ane memang selalu takjub tulisan tentang sejarahdipaparkan dengan gaya sastra...lbh cepat sampai di hati menurut ane.

    ReplyDelete
  2. "Di bekas kejayaan suara2Mu prnah d prdengarkn, langit nan cerah dan mthari yg trllu lmbat brsmbunyi hingga mrhaban ya rmdhan, sya mnanti dan mnunggumu d sini" sangat keren gaya sastra yg sederhana namun menyayat hati krna persambungan antara paragraf yg mantap...perlu difilmkan bro 👍

    ReplyDelete
  3. 2 Catatan perjalanan yang luar biasa dahsyat.

    ReplyDelete